Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/endonesa/indiecomic/mysettings.php on line 472

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/endonesa/indiecomic/mysettings.php on line 487

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/endonesa/indiecomic/mysettings.php on line 494

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/endonesa/indiecomic/mysettings.php on line 530

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/endonesa/indiecomic/myincludes/cache.php on line 103

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/endonesa/indiecomic/myincludes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/endonesa/indiecomic/myincludes/theme.php on line 623

Deprecated: Function eregi() is deprecated in /home/endonesa/indiecomic/mycontents/plugins/statpress-reloaded/statpress.php on line 1640

Deprecated: Function eregi() is deprecated in /home/endonesa/indiecomic/mycontents/plugins/statpress-reloaded/statpress.php on line 1644

Deprecated: Function eregi() is deprecated in /home/endonesa/indiecomic/mycontents/plugins/statpress-reloaded/statpress.php on line 1648

Deprecated: Function eregi() is deprecated in /home/endonesa/indiecomic/mycontents/plugins/statpress-reloaded/statpress.php on line 1652

Deprecated: Function ereg() is deprecated in /home/endonesa/indiecomic/mycontents/plugins/statpress-reloaded/statpress.php on line 1352
IndieComic | Masyarakat Komik Indonesia
IndieComic
Masyarakat Komik Indonesia
Komik Indonesia dalam Bonneff
Categories: Artikel

new documentAkhirnya saya dapatkan juga buku karya Marcel Bonneff ini berkat bantuan beberapa rekan milis dan beberapa rekan di KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Buku yang aslinya merupakan disertasi Marcel Bonneff program doktoral tahun 1972 (berbahasa Perancis tentunya) akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Memang terlambat hampir 30 tahun, tapi tak mengapa daripada tidak sama sekali.

Pak Bonneff ini melakukan studi intensif selama 5 tahun atas budaya komik di Indonesia. Tidak hanya industrinya, tapi juga perilaku konsumen, artis, penerbit, Pemerintah, peranan taman bacaan, dll. Juga tidak terbatas disitu, Bonneff juga menelusuri asal-usul komik Indonesia yang jika dirunut sampai jauuuhhhh beberapa abad silam. Salah satunya adalah relief di candi Prambanan dan Borobudur. Walaupun bentuknya tidak seperti komik jaman sekarang, namun kita dapat melihat bahwa para relief itu ‘berbicara dengan gambar’. Begitu pula dengan berbagai wayang beber, yang juga ‘bercerita dengan gambar’.

Perjalanan berlanjut kepada perkembangan industri komik di Indonesia. Mulai dari jaman kolonial, revolusi, kemerdekaan, sampai era pembangunan (awal 70an). Berbagai pengaruh budaya juga disingkap seperti pengaruh Barat dan Cina, selain budaya lokal setempat tentunya. Disini kita bertambah wawasan bahwa budaya komik merupakan salah satu budaya yang paling kuat akarnya di Indonesia. Mungkin memang tidak sekuat bentuk sastra lainnya seperti puisi, prosa, pantun, dll. Tapi komik mendapat tempat khusus diantara sekian banyak karya sastra tsb.

Bonneff juga membawa kita berkelana ke berbagai ‘genre’ komik yang sempat populer saat itu. Katakanlah tiga kubu genre yang memiliki ‘fanbase’ terkuat yaitu wayang, silat dan roman percintaan. Kita pasti kenal dengan tokoh-tokoh komik silat seperti Panji Tengkorak (karya Hans Jaladara) dan Si Buta dari Gua Hantu (karya Ganes Th). Komik-komik roman percintaan mungkin tidak punya tokoh sentral sekuat dunia silat, tapi komik ini tetap digemari. Apalagi pada masa itu generasi muda sedang digandrungi pengaruh barat. Lihat saja betapa besar pengaruh barat pada modernisasi karya film/ sinema dan lagu-lagu pop kita. Sedangkan kubu wayang merupakan fansbase terkuat diantara ketiganya.

Faktor ini lebih banyak ditentukan oleh mendarahdagingnya filosofi wayang pada masyarakat Indonesia, terutama pulau Jawa. Genre komik lainnya yang juga menonjol, walaupun tidak sepopuler yang lain, adalah komik fantasi/ superhero. Pada saat penelitian Bonneff, genre ini baru lahir dan belum terasa pengaruh nya pada masyarakat. Komik yang sempat disinggung adalah Gundala Putera Petir (karya Hasmi) dan Godam (karya Wid NS). Masih ada lagi komik lainnya seperti komik humor.

Akhirnya Bonneff menyimpulkan bahwa komik sangat erat hubungannya dengan budaya suatu bangsa. Komik merupakan alat komunikasi massa yang menggabungkan khayalan dan pandangan tentang kehidupan nyata yang dianggap sesuai dengan masyarakat luas. Dengan segmen pembaca mayoritas berumur 15-25 tahun, komik memiliki andil besar dalam perubahan perilaku kaum muda, mengembangkan minat baca, dan pengisi waktu senggang (yang biasanya diisi dengan ngobrol ngga karuan).

Bonneff juga melihat terjadinya perubahan besar pada komik Indonesia sejak kemerdekaannya. Periode yang ditandai oleh pengaruh besar dari Barat tidak lama; segera digantikan oleh periode pemantapan ‘kepribadian bangsa’, suatu hasrat murni yang mendorong komikus kembali ke wayang dan legenda daerah.
Interupsi di tahun 1965 membuat komik kembali ke fiksi murni, dan mengolah mitologi yang tidak terikat suatu ideologi yaitu silat.

Pengaruh berbagai budaya juga tampak pada komik Indonesia, yang memang selaras dengan adanya berbagai pengaruh budaya di tanah Indonesia. Pengaruh agama Hindu, Islam dan Nasrani banyak nampak sebagaimana pengaruh budaya Melayu, India, Arab, Belanda, Amerika dan Cina. Pengaruh tidak hanya nyata dalam naskah cerita, namun juga tampak pada bentuk anatomi isi komik.

Sayang penelitian komik berakhir di tahun 1972. Saya belum menemukan teks penelitian lain atas jatuhnya industri komik Indonesia di awal 80an, seiring dengan hadirnya berbagai komik impor/ terjemahan seperti Tintin, Asterix, Doraemon, Superman, Batman, X-Men, Trigan, Storm, hingga era Crayon Sinchan dan Kungfu Boy. Pertengahan 90an hingga hari ini menunjukan bahwa industri komik Indonesia perlahan-lahan mulai bangkit. Mulai dari lahirnya seniman generasi muda, terselenggaranya berbagai pameran komik, sampai berbagai usaha penerbitan/ cetak ulang komik-komik tempo doeloe, pengaruh budaya asing pada para seniman muda, dll.

Atau mungkin kita sendiri sebaiknya bersama-sama melakukan penelitian ini?[*]

Surjorimba Suroto

Marcel Bonneff, Kepustakaan Populer Gramedia, 1998, ISBN: 979-9023-12-2

Categories: Artikel - Tags: , , ,

1 Comment to “Komik Indonesia dalam Bonneff”