|
||||
|
indiCOMIC (iC): Apa aja judul komik yg sdh dibuat, beserta tahun pembuatannya. Wisnoe: Baru GIBUG aja, sejak tahun 2001. Itu pun secara indie/underground. Barusan mau dilegalkan tapi ditunda berhubung ada komen GIBUG niru tokoh sinetron yang sekarang lagi ngetren, padahal asli lho. Aku punya hak ciptanya. Menyusul adalah GIBUG versi baru, Namaku Bram (10 jilid), Dakocan (1 jilid). iC:
Apa saja karakter-karakter yang pernah diciptakan? iC: Sejak
kapan tepatnya mulai bikin komik? iC: Bagaimana
menurut anda perkembangan komik Indonesia? iC: Mana yang lebih menentukan akan suksesnya sebuah komik, gambar atau cerita? Dan tolong jelaskan alasannya. Wisnoe: dua-duanya. Gambar bagus akan enak dipandang dan patut dikoleksi. Cerita bagus bisa bikin kita terbawa ... suka ... rindu ... beli? siapa takut ... ayo maju! he he he ...
iC: sejak
kapan ngajar di Masterweb School? iC: Bagaimana
animo murid-murid MWS ttg komik? Apa tujuan mereka belajar komik? Apakah
ingin jadi komikus, atau hanya ingin bisa menggambar saja? iC: Apa
saja yang kira-kira harus kita lakukan utk menanamkan awareness tentang
komik Indonesia? iC:
Saran-saran untuk komikus Indonesia? kontak: website:
Agung Aries Budiman (Komikaze)
Ia pernah kuliah di UGM jurusan fisipol, namun tidak selesai. Dan melanjutkan ke Modern School of Design Yogyakarta untuk belajar design grafis selama satu tahun. Pernah bergabung di perusahaan kaos paling terkenal di Yogyakarta, Dagadu, sebagai perancang ilustrasi untuk kaos. Pendapatnya
tentang komik Indonesia adalah, menurutnya yang penting kita harus berkarya
terus, dan melihat komik sebuah media yang bias mengekspresikan berbagai
hal, dari mulai politik, hukum, dan sebagainya. Kita harus mengembangkan
terus industri komik di Indonesia dengan baik agar bisa bersaing dengan
komik lain yang sekarang ini merajai pasaran komik di tanah air. Menurutnya
kita harus membuat komik yang bisa memenuhi selera pasar. Namun bukan
berarti kita harus mencontek gaya gambar komik-komik lain yang lebih dulu
ada di pasaran, seperti komik Jepang (manga), misalnya. Yang patut dicontoh
dari komik-komik Jepang tersebut adalah semangatnya, bagaimana cara mereka
memanage industri komik mereka, dari mulai tema, cerita, produksi, pemasaran
sampai promosinya. Komik Jepang, misalnya dengan tema sepak bola, itu
penjabarannya luar biasa, menjurus ke semua segment pembaca.
Dwi Koendoro Brotoatmojo
(Panji Koming)
Komiknya yang berupa komik strip pertama kali
dimuat di majalah Dimpo, sebuah majalah untuk anak-anak. Dan tahun 1961,
karyanya yang lain dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat. Tahun 1971 ia membuat
komik untuk majalah ”Stop”, juga menjadi ilustrator freelance untuk majalah
yang ada saat itu, seperti Selecta, Senang dan Stop. Saat ini ia lebih banyak menikmati masa pensiunnya.
Namun bukan berarti turun gunung dari dunia perkomikan Indonesia. Ia tetap
rutin menjadi freelancer untuk mensuplai serail Panji Koming ke harian
Kompas. Juga menjadi pemasok komik untuk penerbit Mizan. Ia mengaku, sebetulnya profesi dirinya adalah sebagai sutradara. Ia banyak menyutradai film-film dokumenter, atau pun film untuk iklan. Ia bahkan memiliki sebuah rumah produksi miliknya sendiri yang bernama Citra Audivistama. Karyanya dalam bidang animasi ini, sebagi contohnya adalah iklan produk pipa paralon dengan gambar aliran air sungai dengan latar belakang lagu Bengawan Solo. Dulunya ia bergabung di rumah produksi Gramedia Film, sebelum memiliki rumah produksi sendiri. Satu hal yang ditekankannya mengenai dunia perkomikan
ini adalah, mengenai pentingnya manajemen waktu. Kita harus pandai memanfaatkan
waktu yang ada. Atau secara luasnya, kita tak boleh tergantung kepada
mood untuk membuat sebiah karya. Ia mencontohkan, ia pernah membuat Panji
Koming di sebuah padang pasir dengan beralaskan triplek karena dikejar
deadline. Mengenai mencari inspirasi dalam membuat Panji Koming, ia selalu
membawa buku bacaan mengenai masalah yang sedang aktual di negeri ini.
Bahkan tema mengenai komik Panji Koming itu pun sangat tergantung kepada
kondisi di tanah air. Bisa saja naskah yang sudah masuk ke redaksi, harus
diubah lagi secara mendadak karena terjadinya perubahan politik di Indonesia
yang berubah secara tiba-tiba. Pendapatnya tentang komik Indonesia, pengamatannya
sejak tahun 1994, komik di tanah air semakin berkembang. Satu hal yang
penting adalah mentalitas. Indonesia belum bisa menemukan karakter komiknya
sendiri karena masyarakatnya yang sangat heterogen. Dunia perkomikan di
Indonesia yang ada sekarang ini harus terus dibina. Jangan tergantung
pada yang tua dan sudah tak perlu diatur-atur lagi karena sudah dewasa. Mengenai peran internet bagi perkembangan komik
Indonesia, sebagai sebuah media komunikasi dan informasi, internet layak
digunakan untuk membantu penyampaian informasi tentang komik. Yang jelas,
gunakanlah! Email yang bisa dihubungi: kisabdopailul@yahoo.com Komikografi: Suryo
Nugroho (Jokomik, Komik Cinta)
Indi komik, baginya bukanlah sebuah batu loncatan. Indi komik adalah sebuah dunia tersendiri yang bisa diseriusi. Artinya, selain berkarya membuat komik, harus serius juga pendistribusian dan promosi komik indi tersebut. Hanya saja masalahnya, bagi komikus atau studio komik, energi habis untuk dicurahkan untuk membuat komik, jadi tak ada lagi tenaga untuk menjual dan mempromosikan komik indi tersebut. Maka, dalam membuat studio komik sebaiknya juga disertakan tenaga pemasaran dan promosi komik karya studio tersebut. Mengenai penjualan komik indi, dulu pernah ada contoh komik Petruk Gareng yang pendistribusiannya oleh Gultom agency bisa dibilang sukses, walaupun tak pernah masuk ke major label. Jadi usulnya, kita yang bergerak di dunia komik Indonesia ini harus menyatukan kekuatan, jangan bergerak sendiri-sendiri, karena membuat gerak kita jadi sulit. Misalnya dengan membuat jaringan distribusi komik tersebut (Suryo mengaku belum membaca semua tentang program membangun jaringan distribusi komik indi yang dijalankan indicomic.com, red), seperti misalnya yang telah dijalankan oleh studio Bajak Laut dengan Istana Kartu-nya. Kegiatan suryo selain bikin komik, ia sering membantu rekan-rekannya di MKI dalam mengadakan event-event mengenai komik, seperti di acara PKAN IV ini, ia adalah salah satu panitia yang sering terlihat sibuk hilir mudik. Ia juga tergabung ke dalam studio Rumah Warna dan sering menerima orderan dalam pembuatan ilustrasi atau desain lainnya. Komentarnya
tentang komik Indonesia, ia mengatakan bahwa kita terlalu sibuk mencari
jati diri komik Indonesia. Misalnya Jepang dengan manganya, Amerika dengan
Marvelnya. Berkarya ya berkarya
saja, jangan ikut-ikuatan, begitu katanya. Jangan karena Manga sedang
mewabah di negeri ini lalu kita harus ikut style Manga. Ia berharap agar
komik Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri orang, dan terutama
di negeri sendiri tentunya. Tentang Internet dan peranannya dalam perkomikan,
baginya segala media itu bagus untuk mensosialisasikan komik Indonesia.
Sekarang Internet sedang mewabah, dan internet jadi media yang sangat
cepat untuk bertransaksi dan lain-lainnya. Internet harus digunakan untuk
memberantas buta komik. Indonesia terlalu terlena dalam budaya mendengar,
padahal dulu sudah ada budaya menggambar sejak jaman nenek moyang kita,
contohnya adalah relief di candi-candi yang banyak berada di Indonesia. Mengenai dukungannya bagi gerakan menanamkan awareness akan komik Indonesia, Suryo siap membantu menggandakan buletin IndiCOMIC, bila ada order dengan sisa cetakan lebih. OK, thanks. Ditunggu juga dukungan dari yang lainnya untuk membangun gerakan ini. Mau kontak sama Suryo? Kirim aja email ke jokomik@bolehmail.com atau ke komik_cinta@yahoo.com Komikografi: Sapto 'Athonk' Rahardjo (Old Skull)
iC:
Apa yang harus dibenahi pada komik indonesia? iC:
Mana yang lebih menentukan pada sebuah komik merut Anda, cerita atau gambar? iC:
Pendapat anda mengenai website untuk perkembangan komik indonesia? iC:
Saran-saran untuk komikus indonesia? iC:
harapan akan komik indonesia? informasi
data diri Athonk: Komikografi: Eko Nugroho (Daging Tumbuh)
iC: komik
apa saja yg pernah dibuat dan tahun pembuatannya? Komikografi: |
||||