KEGEMARAN anak-anak membaca komik-komik islami, tampak mulai bagus. Namun antusiasme itu tidak dibarengi sediaan komik yang sesuai kebutuhan mereka
Di sisi lain, ketersediaan komik-komik Islam cenderung terbatas dan harganya pun rada mahal dibandingkan komik-komik produk impor, yang notabene materi cerita dan gambarnya kurang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak Islam. Demikian halnya dari aspek penyusun atau penulis cerita komik-komik Islam maupun komikus muslim, cenderung minim jumlahnya.
Menurut pengamat pendidikan-keagamaan, Dr. KH Afif Muhammad, MA., kehadiran komik-komik Islam sungguh penting dalam kehidupan di masa sekarang. Alasannya, komik-komik Islam itu bermanfaat buat “mengimbangi” kehadiran komik-komik dari mancanegara yang jelas tidak sejalan dengan ajaran Islam (lihat rubruk “Boks”, Red).
Di Indonesia sendiri, memang baru ada beberapa penerbit Islam yang mau terjun ke lini produk komik-komik Islam. Tentunya mereka bersedia membuat produk tersebut, setelah melakukan berbagai pertimbangan yang matang soal peluang bisnisnya.
Menurut Salman Arif–penanggungjawab lini produk Komik Mizan Indonesia–, komik pertama Mizan yang berhasil adalah komik kisah sejarah nabi gambaran komikus Nurwahidin Bandung. Komik itu sarat dengan muatan pendidikan agama Islam. Dipasarkan pada tahun 1996, dan diterima di lingkungan pendidikan, bahkan menjadi bahan bacaan siswa SD di lingkungan sekolah Islam.
“Mizan sendiri boleh dibilang kebat-kebit saat mencoba merintis komik-komik asli buatan komikus lokal. Namun toh kita sepakat pada satu bentuk kepercayaan bahwa produk apa pun yang kita buat, pasti akan diserap oleh pasar,” tutur Salman.
Dikemukakannya, visi Mizan tentang komik selain menyediakan bacaan alternatif dari komik yang sudah ada, juga menjadikan komik sebagai sebuah media perjuangan. Mizan berusaha menjadi wadah untuk mengendapkan kesadaran kolektif para komikus melalui lini produk Mizan Komik Indonesia. Jika kesadaran kolektif ini sudah muncul, harapan berikutnya adalah lahirnya strategi kebudayaan. Karena kita percaya komik tidak sekadar industri, tapi juga perjuangan. Siapa tahu di kemudian hari komik bisa dinikmati sebagai bagian dari sastra dan dakwah Islamiyah, yang bisa memicu dialog dan kontemplasi.
Menyinggung tentang komik yang pernah diproduk Mizan, Salman mengatakan, cukup banyak jenis dan eksemplarnya. Misalnya, ada jenis Komik Ibadah, Komik Mio, Komik Ashr, Komik 1001 Malam dengan tokohnya Abunawas, Komik Lucu, Komik Petualangan, Komik Islami, Komik Remaja, Nomik atau Novel Komik “Olin”, dan bahkan ada pula Poster Komik yang berukuran besar.
“Tokoh Abunawas dalam komik 1001 Malam yang dibuat Mizan, itu sungguh sukses di pasaran. Isinya itu meramu cerita dengan dialog khas Betawi para tokohnya. Dan kami yakin, kisah Abunawas itu sudah pasti dikenal pasar sehingga bisa mengundang daya tarik sekaligus mengurangi risiko eksperimen cerita,” kata Salman.
Beberapa orangtua muslim yang anak-anaknya menggemari komik Islam pada umumnya mengatakan soal kebutuhannya atas kehadiran komik-komik Islam. Selama ini, ungkap mereka, dari segi kuantitas maupun kualitas ternyata komik-komik Islam belum bisa mengungguli komik-komik non-Islam. Bahkan dari segi harganya, juga jauh lebih mahal. Akibatnya, banyak orangtua muslim yang berat untuk membeli komik-komik Islam.
Dalam pandangan Drs. Abdul Choliq Wijaya, S.Ag., S.IP, komik Islam itu seharusnya dijual dengan harga murah dan kualitasnya juga baik seperti kualitas kertasnya sehingga bisa awet tatkala berada di tangan anak-anak. “Kan bisa saja untuk penerbit yang besar melakukan subsidi silang agar biaya produksi komik bisa diatasi sehingga tidak menjual komik Islam tersebut dengan harga mahal,” ujar Abdul Choliq.
Namun harapan semacam itu ditolak oleh sejumlah penerbit. Misalnya, pihak Mizan sangat sulit menurunkan harga jual komik-komik Islam. Mengapa? Menurut Salman Arif, karena biaya produksinya memang besar dan dicetak dengan kualitas kertas yang baik.
Lalu, bagaimanakah solusi untuk mengatasi dahaganya sebagian anak-anak Islam terhadap komik-komik bernuansa Islam?
Dr. Zaki Su’ud–dosen ITB yang anaknya sekolah di SDIT Imam Bukhari Jatinangor–menyarankan agar sekolah-sekolah dasar, terutama yang dikelola umat Islam–untuk mendirikan perpustakaan. Selain itu, juga diselenggarakan program amal shaleh atau wakaf buku untuk mengisi ruang perpustakaan.
Menurut Ir. Masudin–Kepsek SDIT Imam Bukhari–, pola penyediaan perpustakaan sesungguhnya sangat bermanfaat bagi para siswa yang haus terhadap bahan bacaan, baik itu komik maupun lainnya. Lewat perpustakaanlah, dapat digerakan kegiatan pengumpulan atau wakaf buku bekas atau buku baru.
“Bisa saja, misalnya, bagi siswa baru atau siswa yang naik kelas maupun tamat, diimbau memberi sumbangan berupa buku untuk di perpustakaan. Ya, tentunya setelah buku sumbangan itu terkumpul, pihak sekolah harus menseleksinya mana yang layak dibaca dan mana yang tidak. Begitu pula perlu diatur tatacara peminjaman buku dari perpustakaan, seperti kapan dan buku apa saja yang boleh dipinjam dan dibawa ke rumah,” tutur Masudin.
* *
SEDANGKAN Direktur Pendidikan Al Ma’soem, Drs. Asep Sujana berpendapat, sudah selayaknya pihak sekolah bekerjasama dengan orangtua murid untuk mempercepat pendirian perpustakaan bilamana di sekolah yang bersangkutan belum ada sarana perpustakaan. Alasannya, perpustakaan itu merupakan salah satu bagian penting dari proses belajar-mengajar.
“Ya, bisa dibilang, bukanlah sekolahan kalau tidak ada sarana perpustakaan. Dan perpustakaan itu perlu ada sebagaimana sarana-sarana pendidikan lain, seperti laboratorium dan sejenisnya. Di SD Al Ma’soem, misalnya, kami dirikan sarana perpustakaan. Dengan harapan agar para siswa bisa memanfaatkan buku-buku di perpustakaan untuk meningkatkan pengetahuannya,” tutur Asep Sujana.
Seandainya di ruang perpustakaan itu ada bahan bacaan jenis komik, menurut Ny. Diah Fatma, SE., sudah selayaknya benar-benar diseleksi. Jangan sampai semua jenis komik atau komik-komik yang kurang mendidik, disimpan di ruang perpustakaan. “Kan bisa saja, ada komik yang nuansa dakwahnya minim, bahkan bersifat menggerogoti aqidah Islamiyah atau membuat bingung siswa yang membacanya,” ujar Humas Sekolah Darul Hikam ini.
Bila perpustakaan sudah ada, peraturan pemanfaatannya sudah dibuat dan ada petugas yang melayaninya, lalu apa yang perlu dilakukan selanjutnya?
Baik Masudin, Asep Sujana maupun Diah Fatma merasa sependapat tentang perlunya pihak sekolah dan juga orangtua bersama-sama memberi motivasi agar anak-anak bergairah membaca. Sekolah hendakya berperan dalam mendukung budaya gemar mebaca. Jangan sampai sekolah terlalu berorientasi pada upaya siswa agar memperoleh nilai baik, seraya tidak mengarahkannya untuk bergairah mendapatkan ilmu pengetahuan lewat kegiatan membaca.
Dalam konteks ini, menurut Abdul Choliq Wijaya, guru hendaknya tidak hanya menganjurkan membaca buku yang ada kaitannya dengan materi pelajaran di sekolah atau materi yang akan dikeluarkan dalam ulangan. Tapi, guru juga menganjurkan siswa agar selalu menambah wawasannya dengan membaca buku-buku dari jenis apa saja asalkan sesuai dengan syariat Islam.
“Orangtua dan guru juga perlu mengarahkan siswa agar tidak selalu bergantung pada televisi dalam menambah pengetahuannya. Katakan kepada siswa SD, membaca buku lain di luar pelajaran sekolah seperti baca komik Islam, itu juga sangat bermanfaat,” tutur Abdul Choliq.
**
MEMBANJIRNYA komik-komik impor, terutama dari Jepang tak dapat kita pungkiri. Belum lagi ditunjang oleh media audiovisual yang menayangkan animenya (sebutan film kartun di jepang). Minat anak terhadap komik pun menjadi besar.
Hanya saja, yang menjadi pertanyaan dan kekhawatiran orangtua, apakah isi dan gambar yang disajikan sudah sesuai dengan budaya dan aqidah yang dianut? Pilihan sulit jika dihadapkan pertanyaan ini, tentunya sebagai orangtua, kita tak ingin anaknya dianggap “kuper” (kurang pergaulan). Untuk itu, orangtua pun terpaksa mengalah dan dengan berat hati menuruti kemauan anak.
Di lain pihak untuk mendapatkan komik yang digemari anak-anak dari produk lokal masih jarang didapat, sehingga orangtua juga tak punya pilihan yang banyak untuk memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Belum lagi kendala kualitas produk lokal terhadap isi dan gambarnya yang kurang digemari anak-anak.
Jika ada yang mencap produk impor itu kurang sesuai dengan nilai-nilai agama serta moral bangsa Indonesia wajar saja, karena memang budaya di negeri asalnya boleh jadi seperti yang digambarkan dalam komik itu tadi.
Mayoritas masyarakat muslim tentu mengharapkan tak sekadar memberikan suatu media bacaan yang hanya sebagai hiburan, tapi ada unsur edukasi dan spiritualnya. Hadirnya komik-komik islami yang menyajikan cerita-cerita sarat nilai tanpa menggurui dengan mengajak tanpa memaksa, akan memberikan nuansa baru bagi orangtua untuk menjadi media alternatif.
Selama kemasannya menarik, setiap nuansa kehidupan dirangkai dalam koridor syariat islam, komik-komik yang diterbitkan Asy Syaamil maupun Mizan serta penerbit lainnya bisa menjadi pelengkap. Kehadiran mereka mengisi kekosongan produk komik dalam negeri.
Di TB.Gramedia saja sekitar 20-25% produk yang dijualnya berupa komik, bahkan top seller yang mencapai angka penjualan 100-200 buah tiap bulannya adalah komik. Sayangnya, 90% pasaran komik yang dijual berasal dari luar negeri, 80% di antaranya adalah komik Jepang. Jika angka itu bisa digeser dan proporsinya berimbang dengan produk lokal, tentu saja sebuah prestasi yang luar biasa.
“Di Jepang komik sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Komik sangat identik dengan fashion, maka tak heran bila ada yang keranjingan satu tokoh hingga menjiplak model fashionnya sama. Maka di Indonesia juga komunitas itu harus terbentuk, dan animo masyarakat terhadap komik harus tumbuh,” kata Tan Yue Er, wakil direktur studio komik Comicon.
Fenomena komik anak Islam memang sebuah alternatif media bacaan yang patut dipikirkan. Setidaknya, upaya ini bisa menjadi jalan bagi bangkitnya perkomikan lokal. Dulu komik lokal cukup laku daan popler karena tidak ada pilihan. Kemasan yang kian hari
memprihatinkan isi maupun gambar yang kaku, juga tak cepat ditanggapi penerbit. Buntutnya, ketika produk impor membanjir di pasaran, penggemar komikpun memiliki banyak pilihan.
“Komik Islam menjadi sebuah harapan, oase bagi penikmat komik ditengah gersangnya nilai-nilai luhur agama yang tak didapat dari komik impor,” kata Eka Wardhana, manajer penerbitan Asy Syaamil.
“Hanya saja, jika terlalu mensegmentasikan diri pada pasar tertentu akan menyulitkan bagi perkembangan pemasaran produk itu sendiri. Kalau ada penerbit yang mau mencoba, itu bagus,” Robby Alexander, kasie penjualan TB. Gramedia Merdeka Bandung.
Aji/EYP (”PR”)/Jalu/Pikiran-Rakyat