IndieComic
Masyarakat Komik Indonesia
Tembok-tembok Penghalang Kelilingi Para Komikus Muda
Categories: Berita

BERBICARA tentang dunia komik Indonesia dewasa ini, apa yang masih tersisa? Bikinlah sebuah forum diskusi, tentukan tema tertentu. Berani taruhan, persoalan yang muncul pasti itu-itu juga. Antara optimisme dan pesimisme, serbuan komik terjemahan, arogansi penerbit bla bla bla.

Itu pulalah yang terjadi pada ”Diskusi Komik Indonesia: Fenomena Komik Underground Indonesia di Dua Kota, Jakarta dan Bandung”, di British Council, Jakarta, Jumat (4/1) lalu.

Tak urung acara diskusi tersebut kemudian menjadi semacam ajang curhat bagi sejumlah komikus muda yang kebetulan dihadirkan sebagai pembicara. Alfi Zachkyelle, komikus muda dari Sekte Komik, Jakarta, misalnya, mengungkapkan keprihatinannya atas banyak tembok penghalang yang harus dilawan untuk melahirkan sebuah komik yang bisa dibaca banyak orang. Penerbit-penerbit besar, bagi mahasiswa Institut Kesenian Jakarta itu, layaknya menara gading yang tak kunjung mampu teraih tangan.

”Awalnya kita menerbitkan komik-komik dengan cara kita sendiri, yaitu difotokopi, lalu dijual hand to hand. Dari cara itu, ternyata bisa laku 5.000-an eksemplar. Itu terjadi pada 1999,” kenang Alfi seperti dirilis detikhot.

Dari situlah, lanjut dia, mulai ada penerbit yang melirik. ”Tapi mereka datang dengan sejumlah tuntutan, sementara kita juga punya idealisme yang harus tetap dipertahankan; ya dengan sendirinya terjadilah kompromi, tapi tetap tidak semua hal bisa dikompromikan,” tutur dia lagi.

Jalan tengah kemudian ditempuh Alfi: bergabung dengan penerbit sambil tetap bergerilya menerbitkan komik secara underground. ”Kita seperti hidup di dua dunia. Dua kaki kita perpijak pada tempat yang berbeda,” ujarnya.

Alfi barangkali bisa dilihat sebagai sosok yang mewakili dilema para komikus muda saat ini, yang ingin berkembang mengaktualisasikan pilihan kreatifnya. Tekanan yang muncul dari berbagai hambatan dan rintangan untuk berkembang, memang kemudian justru menciptakan ruang-ruang perlawanan kreatif dari para komikus muda tersebut.

Dari situlah muncul istilah komik underground. ”Juga muncul istilah-istilah lain seperti komik independen atau komik indie label. Intinya sama, perlawanan terhadap konvensi artistik dan pemasaran,” jelas pengamat komik dari Yayasan Kaji Gambar Indonesia, Zefry Alkatiri.

Belum Memikat

Dari pengamatannya terhadap komik-komik underground yang terbit 1990-an di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya, Zefry menandai karya-karya anak-anak kampus tersebut masih belum berhasil memikat secara tematis, dari segi alur, atau penokohan.

Lebih jauh Zefry juga menandai, komik-komik karya komikus muda Jakarta dan Bandung cenderung dipengaruhi oleh komik-komik terjemahan dari Jepang, Amerika, dan Eropa. Sedangkan komikus Yogyakarta lebih tradisional.

Selain teknik penggarapannya nonkomputer, tema dan visualisasinya pun bergaya Indonesia. Tapi pada dasarnya, mereka menghadapi persoalan yang sama: distribusi.

”Untuk mengatasi masalah tersebut, lahirlah studio-studio komik. Jadi, mereka bekerja secara berkelompok. Itu berbeda dari komikus 1970-an, yang bekerja sendiri-sendiri,” jelas Zefry. Sayang, lanjut dia, fenomena semacam itu biasanya hanya tren sesaat. ”Mereka berkarya secara berkelompok itu hanya selama masih kuliah. Nanti kalau sudah lulus, ya mencari kerja di tempat lain,” tambahnya.

Profesional

Pengecualian tentu selalu ada. Andriani, komikus muda dari Studio Bajing Loncat Bandung, yang juga dihadirkan sebagai pembicara, memilih tetap menekuni komik setelah lulus dari jurusan arsitektur. Bahkan, dia memilih jalur profesional dan bertekad untuk menjadikan komik sebagai tempat mencari nafkah.

”Kalau mau total ya harus begitu, realitas pasar menghendaki seperti itu. Bukan berarti kita nggak idealis lagi, tapi ada penerbit yang harus diajak bicara dalam sebuah kontrak industri,” tutur Ani, sapaan mesra untuk Anriani.

Bagi perempuan berjilbab itu, apa yang disebut sebagai komik underground adalah cerita masa lalu. Disadarinya, apa yang dilakukannya bersama teman-temannya di Studio Bajing Loncat masih jauh untuk disebut berhasil membangun industri komik.

Diskusi Komik Indonesia merupakan bagian terakhir dari rangkaian kegiatan Pengki (Himpunan Pengumpul Komik IKJ) dalam upaya memasyarakatkan komik negeri sendiri lewat pameran dan kegiatan lainnya. Kampanye tersebut masih akan berlanjut. Dijadwalkan Mei 2002 Pengki akan menggelar Pameran Seri Roman Indonesia. (Tavifrudi-41t, dimuat dalam Suara Merdeka, 8 Januari 2002)