BAGI penggemar berat komik pasti tahu, banyak karakter yang populer (terkenal) bukan dari negeri kita sendiri. Kalau kalian jalan-jalan ke toko buku, rak-rak komik hampir tak pernah sepi dari pengunjung. Karena memang, 20-25% produk yang dijualnya berupa komik.
Bahkan top seller (penjualan terbaik) mencapai angka penjualan 100-200 buah tiap bulannya adalah komik. Sayangnya, 90% pasaran komik yang dijual berasal dari luar negeri, 80% di antaranya dari Jepang.
Kenapa banyak dari Jepang? Wajar saja karena di Jepang komik sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Komik sangat identik dengan fashion (pakaian), tak heran bila ada yang keranjingan satu tokoh hingga menjiplak model fashionnya. “Di Indonesia juga komunitas (kelompok) itu harus terbentuk, dan animo (kesukaan) masyarakat terhadap komik harus tumbuh,” ujar Tan Yue Er, wakil Direktur Studio Comicon.
Di Jepang komik sudah maju, tak kurang dari 10 ribu komikus yang menggeluti pekerjaannya secara serius. Tak heran bila setiap tahunnya mereka bisa membuat tak kurang dari 3 juta judul komik dan 10% di antaranya laris (terkenal). Komikus di Indonesia masih bisa dihitung dengan jari, itupun banyak yang hanya menjadikannya pekerjaan sampingan atau hobi.
Bagaimana dengan Indonesia? adakah yang tertarik membangkitkan komik? Nah, ini tantangan bagi kalian yang ingin memajukan komik Indonesia terutama komik yang cocok untuk anak-anak seusia kalian.
Nah, untuk memasyarakatkan komik, salah satu caranya dengan memberikan kesempatan koran atau tabloid untuk memuat karya para komikus, seperti “Percil” ini. Jika sudah terlihat banyak yang diminati baru bisa di terbitkan sebagai buku. Cara ini juga yang dilakukan Jepang dan negara-negara lainnya dalam memasyarakatkan komik.
Sebagai usaha untuk memajukan lagi komik Indonesia diadakanlah kegiatan Pekan Komik Asia 2003 merupakan kreativitas yang diadakan KBK Ilustrasi dan Seni Sekuensial, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Departemen Desain FSRD ITB di Aula Timur ITB.
Disebut Komik Asia karena memang pembicaranya juga datang dari negara lain sebut saja Kosei Ono dari Kokushikan University Japan dan Muliyadi Mahamood, Universiti Teknologi MARA Malaysia.
Kegiatannya sendiri berupa lomba komik pendek dimulai November 2002 dan sebagai puncak acara diadakan pekan KOMIK ASIA 22-24 Maret 2003 dengan menggelar seminar. Namun, selain itu juga ada workshop, pameran, dan lomba komik. (jalu/Pikiran-Rakyat)
