<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>IndieComic</title>
	<atom:link href="http://indiecomic.endonesa.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indiecomic.endonesa.net</link>
	<description>Masyarakat Komik Indonesia</description>
	<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 17:50:56 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>&#8216;Komisi&#8217; Bangkitkan Komik Lokal</title>
		<link>http://indiecomic.endonesa.net/berita-news/komisi-bangkitkan-komik-lokal.htm</link>
		<comments>http://indiecomic.endonesa.net/berita-news/komisi-bangkitkan-komik-lokal.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2005 22:20:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[ISI Yogyakarta]]></category>

		<category><![CDATA[Manga]]></category>

		<category><![CDATA[seniman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indiecomic.endonesa.net/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Komik menjadi bacaan favorit yang digemari segala usia. Dari segi penokohan, alur cerita, maupun dialognya yang komunikatif, komik menjadi bacaan ringan paling disuka di seluruh dunia. Kendati disinyalir sebagai satu penghambat kecerdasan anak, komik tetap jadi bacaan ringan favorit anak-anak, remaja, bahkan orangtua. Sejarah perkomikan telah mencatatkan tokoh klasik Perancis Asterix, komik Swedia Tin-Tin, hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Komik menjadi bacaan favorit yang digemari segala usia. Dari segi penokohan, alur cerita, maupun dialognya yang komunikatif, komik menjadi bacaan ringan paling disuka di seluruh dunia. Kendati disinyalir sebagai satu penghambat kecerdasan anak, komik tetap jadi bacaan ringan favorit anak-anak, remaja, bahkan orangtua. Sejarah perkomikan telah mencatatkan tokoh klasik Perancis Asterix, komik Swedia Tin-Tin, hingga revolusi Manga (komik Jepang).</p>
<p>Kendati dunia perkomikan dimonopoli komik-komik Barat dan Manga, gejala menggembirakan, setidaknya dari segi kuantitasnya, komik di Indonesia mulai muncul sebagai genre baru sebuah media penyampai gagasan. Dalam genre baru ini &#8212; lepas dari masa kejayaan komik Indonesia pada 1970-an &#8212; komik Indonesia muncul dalam penjelajahan visual, wacana, spirit, mental yang terlepas dari mainstream komik-komik Barat dan Manga.<span id="more-7"></span></p>
<p>Eksplorasi komik Indonesia pun tak berhenti dalam tataran kuantitas. Sebuah upaya peningkatan kualitas direalisasikan dengan mmemunculkan mata kuliah Studi Komik di kampus ISI Yogyakarta dengan bimbingan Drs Herry Wibowo dan Bambang Toko Witjaksono SSn.</p>
<p>Pameran komik dari 35 mahasiswa ISI peserta mata kuliah Studi Komik dan praktisi komik pun digelar, mulai Jum&#8217;at (25/5) lalu hingga Kamis (31/5) mendatang di Modern School of Design (MSD) Jalan Tamansiswa 164 Yogya dalam tajuk gelaran Pameran Komik ISI (Komisi).</p>
<p>Dari segi visual, komik-komik yang ditampilkan dalam format &#8220;lukisan&#8221; oleh seniman ISI jauh lebih bagus dibanding komik-komik yang beredar di pasaran. Namun, dari segi penceritaan, mungkin juga karena keterbatasan ruang, komik-komik itu terkesan hadir sebagai lukisan yang ditempeli dialog, ketimbang penyampai gagasan verbal yang terintegrasi dengan aspek visual.</p>
<p>Bahkan beberapa hadir tanpa aspek verbal, yang ironisnya menjadi ciri dan kekuatan komik. Muatan-muatan &#8220;berat&#8221; yang disampaikan lewat komik menjadikan beberapa komik justru &#8220;melelahkan&#8221; untuk disimak. Pertanyaannya, apakah memang komik disini ingin sengaja hadir untuk mendobrak komik-komik pasar dan menjadikan komik sebagai media yang berwacana, tak penting apakah enak dinikmati atau tidak?</p>
<p>Namun, beberapa karya tampil secara komunikatif. Misalnya karya Eko Cahyono yang secara kocak menggambarkan laki-laki patah hati dan akhirnya bertemu wanita cantik yang ternyata hantu Sundelbolong. Atau karya Eros Kumoro yang tampil kekanakan mengkreasi tokoh-tokoh lucu semacam Teletubbies. Juga karya Heri Wibowo yang menggambarkan makhluk raksasa luar angkasa sedang salesma yang bersinnya saja mampu mengakibatkan pesawat terbang oleng. <strong></strong></p>
<p><strong>Mantrijeron, Bernas</strong><br />
<strong></strong><strong>(cr11)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indiecomic.endonesa.net/berita-news/komisi-bangkitkan-komik-lokal.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Komik Indonesia dalam Bonneff</title>
		<link>http://indiecomic.endonesa.net/artikel/hello-world.htm</link>
		<comments>http://indiecomic.endonesa.net/artikel/hello-world.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Mar 2005 21:32:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[budaya]]></category>

		<category><![CDATA[penelitian]]></category>

		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<category><![CDATA[wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indiecomic.endonesa.net/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[new documentAkhirnya saya dapatkan juga buku karya Marcel Bonneff ini berkat bantuan  beberapa rekan milis dan beberapa rekan di KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).  Buku yang aslinya merupakan disertasi Marcel Bonneff program doktoral tahun 1972  (berbahasa Perancis tentunya) akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.  Memang terlambat hampir 30 tahun, tapi tak mengapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>new documentAkhirnya saya dapatkan juga buku karya Marcel Bonneff ini berkat bantuan  beberapa rekan milis dan beberapa rekan di KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).  Buku yang aslinya merupakan disertasi Marcel Bonneff program doktoral tahun 1972  (berbahasa Perancis tentunya) akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.  Memang terlambat hampir 30 tahun, tapi tak mengapa daripada tidak sama sekali.</p>
<p>Pak Bonneff ini melakukan studi intensif selama 5 tahun atas budaya komik di  Indonesia. Tidak hanya industrinya, tapi juga perilaku konsumen, artis,  penerbit, Pemerintah, peranan taman bacaan, dll. Juga tidak terbatas disitu,  Bonneff juga menelusuri asal-usul komik Indonesia yang jika dirunut sampai  jauuuhhhh beberapa abad silam. Salah satunya adalah relief di candi Prambanan  dan Borobudur. <span id="more-1"></span>Walaupun bentuknya tidak seperti komik jaman sekarang, namun kita  dapat melihat bahwa para relief itu &#8216;berbicara dengan gambar&#8217;. Begitu pula  dengan berbagai wayang beber, yang juga &#8216;bercerita dengan gambar&#8217;.</p>
<p>Perjalanan berlanjut kepada perkembangan industri komik di Indonesia. Mulai  dari jaman kolonial, revolusi, kemerdekaan, sampai era pembangunan (awal 70an).  Berbagai pengaruh budaya juga disingkap seperti pengaruh Barat dan Cina, selain  budaya lokal setempat tentunya. Disini kita bertambah wawasan bahwa budaya komik  merupakan salah satu budaya yang paling kuat akarnya di Indonesia. Mungkin  memang tidak sekuat bentuk sastra lainnya seperti puisi, prosa, pantun, dll.  Tapi komik mendapat tempat khusus diantara sekian banyak karya sastra tsb.</p>
<p>Bonneff juga membawa kita berkelana ke berbagai &#8216;genre&#8217; komik yang sempat  populer saat itu. Katakanlah tiga kubu genre yang memiliki &#8216;fanbase&#8217; terkuat  yaitu wayang, silat dan roman percintaan. Kita pasti kenal dengan tokoh-tokoh  komik silat seperti Panji Tengkorak (karya Hans Jaladara) dan Si Buta dari Gua  Hantu (karya Ganes Th). Komik-komik roman percintaan mungkin tidak punya tokoh  sentral sekuat dunia silat, tapi komik ini tetap digemari. Apalagi pada masa itu  generasi muda sedang digandrungi pengaruh barat. Lihat saja betapa besar  pengaruh barat pada modernisasi karya film/ sinema dan lagu-lagu pop kita.  Sedangkan kubu wayang merupakan fansbase terkuat diantara ketiganya.</p>
<p>Faktor ini lebih banyak ditentukan oleh mendarahdagingnya filosofi wayang  pada masyarakat Indonesia, terutama pulau Jawa. Genre komik lainnya yang juga  menonjol, walaupun tidak sepopuler yang lain, adalah komik fantasi/ superhero.  Pada saat penelitian Bonneff, genre ini baru lahir dan belum terasa pengaruh nya  pada masyarakat. Komik yang sempat disinggung adalah Gundala Putera Petir (karya  Hasmi) dan Godam (karya Wid NS). Masih ada lagi komik lainnya seperti komik  humor.</p>
<p>Akhirnya Bonneff menyimpulkan bahwa komik sangat erat hubungannya dengan  budaya suatu bangsa. Komik merupakan alat komunikasi massa yang menggabungkan  khayalan dan pandangan tentang kehidupan nyata yang dianggap sesuai dengan  masyarakat luas. Dengan segmen pembaca mayoritas berumur 15-25 tahun, komik  memiliki andil besar dalam perubahan perilaku kaum muda, mengembangkan minat  baca, dan pengisi waktu senggang (yang biasanya diisi dengan ngobrol ngga  karuan).</p>
<p>Bonneff juga melihat terjadinya perubahan besar pada komik Indonesia sejak  kemerdekaannya. Periode yang ditandai oleh pengaruh besar dari Barat tidak lama;  segera digantikan oleh periode pemantapan &#8216;kepribadian bangsa&#8217;, suatu hasrat  murni yang mendorong komikus kembali ke wayang dan legenda daerah.<br />
Interupsi  di tahun 1965 membuat komik kembali ke fiksi murni, dan mengolah mitologi yang  tidak terikat suatu ideologi yaitu silat.</p>
<p>Pengaruh berbagai budaya juga tampak pada komik Indonesia, yang memang  selaras dengan adanya berbagai pengaruh budaya di tanah Indonesia. Pengaruh  agama Hindu, Islam dan Nasrani banyak nampak sebagaimana pengaruh budaya Melayu,  India, Arab, Belanda, Amerika dan Cina. Pengaruh tidak hanya nyata dalam naskah  cerita, namun juga tampak pada bentuk anatomi isi komik.</p>
<p>Sayang penelitian komik berakhir di tahun 1972. Saya belum menemukan teks  penelitian lain atas jatuhnya industri komik Indonesia di awal 80an, seiring  dengan hadirnya berbagai komik impor/ terjemahan seperti Tintin, Asterix,  Doraemon, Superman, Batman, X-Men, Trigan, Storm, hingga era Crayon Sinchan dan  Kungfu Boy. Pertengahan 90an hingga hari ini menunjukan bahwa industri komik  Indonesia perlahan-lahan mulai bangkit. Mulai dari lahirnya seniman generasi  muda, terselenggaranya berbagai pameran komik, sampai berbagai usaha penerbitan/  cetak ulang komik-komik tempo doeloe, pengaruh budaya asing pada para seniman  muda, dll.</p>
<p>Atau mungkin kita sendiri sebaiknya bersama-sama melakukan penelitian  ini?[*]</p>
<p><strong>Surjorimba Suroto</strong></p>
<p>Marcel Bonneff, Kepustakaan Populer  Gramedia, 1998, ISBN: 979-9023-12-2</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indiecomic.endonesa.net/artikel/hello-world.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Interview: Virgo Bong (art Spot Studio)</title>
		<link>http://indiecomic.endonesa.net/komunitas-community/interview-virgo-bong-art-spot-studio.htm</link>
		<comments>http://indiecomic.endonesa.net/komunitas-community/interview-virgo-bong-art-spot-studio.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2003 09:48:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>

		<category><![CDATA[interview]]></category>

		<category><![CDATA[kampus]]></category>

		<category><![CDATA[studio]]></category>

		<category><![CDATA[UKM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indiecomic.endonesa.net/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Kapan berdirinya Art Spot studio dan        apa yang melatar belakanginya? dan apa tujuannya?
Sebenarnya ArtSpot pertama kali berdiri dan muncul di website sekitar akhir        tahun 2001 kapan tepatnya ArtSpot berdiri saya tak begitu ingat ^^; ,mengenai       [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kapan berdirinya Art Spot studio dan        apa yang melatar belakanginya? dan apa tujuannya?</strong><br />
Sebenarnya ArtSpot pertama kali berdiri dan muncul di website sekitar akhir        tahun 2001 kapan tepatnya ArtSpot berdiri saya tak begitu ingat ^^; ,mengenai        latar belakang ArtSpot sebetulnya anda pasti juga bisa tahu dari profil        anggota kami dimana hampir seluruhnya alumni salah satu kampus di Jakarta,        kami bermulai dari sekelompok orang2 yang suka dengan komik yang kemudian        berkumpul di salah satu group UKM yang waktu itu namanya PlayGround Comic,        tujuan ArtSpot? Terus terang tujuan kami yang utama agar kami bisa ¡¥hidup¡¦        dari komik yang diharapkan secara tak langsung bisa meramaikan industri        komik di Indonesia dan meluaskan peluang bagi artis komik Indonesia yang        berbakat. <span id="more-19"></span></p>
<p><strong>Siapa saja anggotanya? ( dari mana mereka dan apakah          mereka orang Indonesia semua? )<br />
</strong>Seperti yang telah saya katakan diatas, sementara ini kebanyakan          anggotanya dari anggota lama group PlayGround Comic, dan ada juga yang          di luar negeri. Yup, semuanya orang Indonesia.</p>
<p><strong>Apa saja yang dikerjakan oleh Art Spot studio ini? ( komik dan          animasi? )<br />
</strong>Untuk sekarang kita bergerak di bidang produksi illustrasi, komik          dan berusaha untuk mencoba di bidang animasi juga.</p>
<p><strong>Apakah Art Spot studio telah bekerja sama dengan pihak &#8220;luar&#8221;?          bisa disebutkan dengan siapa? dan mengerjakan proyek(-proyek) apa?<br />
</strong>Ya, kami sudah bekerja sama dengan Shoto Press kira-kira satu          setengah tahun, sejauh ini kami mengerjakan 2 komik untuk Shoto Press,          satu komik serial ¡¥Malay Mysteries¡¦ yang dikerjakan          oleh artist kami Rizky Wasisto Edi dan satunya lagi ¡¥The Golden          Vine¡¦ kami hanya membantu di bagian coloringnya saja.</p>
<p><strong>Apa andil Art Spot studio dalam proyek tersebut?<br />
</strong>Untuk yang serial ¡¥Malay Mysteries¡¦          kami mengerjakan visualisasi komik itu, script diberikan oleh Shoto Press          dan kadang2 kami pun diminta pendapat dan masukannya dalam cerita komik          itu (yang dimana hanya usul ¡¥minor¡¦ saja, karena          script yang diberikan kepada kami sudah ditulis dan diceritakan dengan          baik oleh Jai Sen (sang penulis ¡V ¡¥author¡¦).          Sedangkan untuk ¡¥The Golden Vine¡¦ kami hanya          mengerjakan pewarnaan komik itu (tentunya dengan guide2 yang diberikan          oleh Shoto Press)</p>
<p><strong>Bisa di ceritakan secara singkat bagaimana Art Spot studio bisa          sampai bekerja sama dengan pihak &#8220;luar&#8221; tersebut?<br />
</strong>Wah, untuk yang satu ini saya pun juga bingung kok kita bisa          begini ^^, awalnya kita hanya membuat website dan menampilkan karya2 kita          setelah itu kita di contact oleh Jai Sen melalui e-mail dan menawarkan          kerjasama untuk membuat komik, kemudian kita membicarakan secara detil          bagaimana prosesnya setelah jelas baru kita mulai mengerjakan proyek2          tersebut dan berlanjut<br />
sampai sekarang ini.</p>
<p><strong>Apa saja yang telah dikerjakan oleh Art Spot Studio, baik karya          murni Art Spot studio atau yang berkolaborasi dengan pihak &#8220;luar&#8221;?<br />
</strong>Sejauh ini karya murni ArtSpot dari personil artistnya yang berupa          komik2 online dan komik underground ¡¥warisan¡¦          sewaktu di PlayGround Comic (Ghost Slayer, Jun Fan, Happy Magical Quest,          Lele Trooper, Oh my God, dsb), dan untuk yang kolaborasi dengan Shoto          Press ¡V serial ¡¥Malay Mysteries¡¦ (¡¥Garlands          of Moonlight¡¦ dan ¡¥Ghost of Silver Cliff¡¦)          dan cerita fiksi<br />
sejarah ¡¥The Golden Vine¡¦ (untuk coloringnya          saja)</p>
<p><strong>Adakah karya Art Spot studio yang menjadi &#8220;masterpiece&#8221;          atau paling tidak membanggakan bagi team? (kalo ada, apa dan mengapa?)<br />
</strong>Kalau dalam komik yang ArtSpot banggakan adalah serial ¡¥Malay          Mysteries¡¦, karena disini kita bisa dan berhasil mengangkat          salah satu artist dan teman kita Rizky Wasisto Edi untuk menjadi artis          komik yang produknya sudah dipasarkan di luar, dan buku pertama ¡¥Garlands          of Moonlight¡¦ mendapatkan Xerix award 2002 dan Ninth Art          Lighthouse Award 2002 - roll of honour for best debut</p>
<p><strong>Apa rencana Art Spot studio ke depan?<br />
</strong> Target kami kedepan selain mengembangkan ArtSpot Studio ini          sendiri, juga mengangkat artist2 berbakat lainnya agar karya mereka bisa          dinikmati di Indonesia maupun di luar.</p>
<p><strong>Proyek apa yang sedang dikerjakan sekarang atau yang akan dikerjakan          Art Spot studio?<br />
</strong>Kami sedang mengerjakan proyek animasi ArtSpot (yang dapat anda          lihat di website kami), dan persiapan proyek kolaborasi berikutnya dengan          Shoto Press</p>
<p><strong>Menurut anda apakah skill komikus Indonesia bisa disamakan dengan          komikus &#8220;luar&#8221;? lalu bagaimana dengan komik Indonesia sendiri?<br />
</strong>Skill artis komik Indonesia sebenarnya tidak banyak berbeda dengan          skill artis komik ¡¥luar¡¦, skill komik pun sebenarnya          penilaiannya beragam bukan? Yah, kalau menurut saya jika artist itu berusaha          dengan baik pasti hasilnya pun akan baik. Sedang untuk komik Indonesia          sejauh ini saya lihat banyak sekali komik2 underground yang berkualitas          bahkan ada juga yang going ¡¥upper¡¦ kan? Menurut          saya ini sangat bagus sekali karena akan membuat suatu persaingan di industri          komik Indonesia dimana secara tak langsung akan mempercepat perkembangan          komik Indonesia.</p>
<p>Jagatkomik, 2003</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indiecomic.endonesa.net/komunitas-community/interview-virgo-bong-art-spot-studio.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tips scanning komik</title>
		<link>http://indiecomic.endonesa.net/tutorial-tips/tips-scanning-komik.htm</link>
		<comments>http://indiecomic.endonesa.net/tutorial-tips/tips-scanning-komik.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jun 2003 17:37:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tutorial &amp; Tips]]></category>

		<category><![CDATA[scan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indiecomic.endonesa.net/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Scanner merupakan satu-satunya alat yang bisa mengubah gambar komik kita dari goresan tangan menjadi data digital yang memungkinkan untuk di-edit melalui komputer. Akan tetapi sebagian komikus masih belum mengetahui seluk beluk piranti komputer ini sehingga mereka langsung saja menggunakannya tanpa mempedulikan hasil yang akan diperoleh. Namun adakalanya gambar hasil scanning tidak memuaskan selera. Gambar pecah-pecah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Scanner merupakan satu-satunya alat yang bisa mengubah gambar komik kita dari goresan tangan menjadi data digital yang memungkinkan untuk di-edit melalui komputer. Akan tetapi sebagian komikus masih belum mengetahui seluk beluk piranti komputer ini sehingga mereka langsung saja menggunakannya tanpa mempedulikan hasil yang akan diperoleh. Namun adakalanya gambar hasil scanning tidak memuaskan selera. Gambar pecah-pecah, bercak-bercak, dan warna lebih gelap seringkali mengurangi kualitas gambar komik yang telah kita lukis. Yang pertama-tama menjadi kekhawatiran kita adalah apakah scanner mengalami gangguan atau, lebih buruk lagi, apakah kita telah terjebak dalam permasalahan scanner, dimana hal itu hanya dipahami oleh spesialis seni komputer ulung? Tapi cobalah tenang sedikit. Ingat bahwa scanner hanyalah alat perekam seperti halnya peralatan stereo, kita mungkin harus menyetel bass dan treble agar mndapatkan efek yang diinginkan.</em><span id="more-41"></span></p>
<p>Tips 1 : <strong>Tentukan resolusi minimum</strong><br />
Beberapa desainer grafis mungkin menyarankan kita untuk men-scan pada resolusi 300 dpi sebab resolusi tersebut cukup baik kualitasnya untuk di-print. Agaknya resolusi 300 dpi memang cukup baik untuk dokumentasi warna, namum bagaimana kalau gambar yang kita scan hitam-putih? Patutkah untuk di-scan pada resolusi tersebut? Apakah bukan pemborosan jika melakukan scanning terlalu detail untuk gambar yang sederhana? Ingat bahwa semakin tinggi resolusi maka semakin lama proses scanning-nya. Oleh karena itu kita perlu mengetahui seberapa besar resolusi minimum yang bisa kita terapkan pada suatu gambar tanpa mengurangi kualitasnya. Untuk mengetahui resolusi minimum kita juga harus menentukan ukuran gambar yang kita scan dan ukuran reproduksi yang akan kita cetak nantinya. Rumus resolusi minimum adalah :</p>
<p>Dpi scan = (resolusi printer x ukuran reproduksi)/ukuran asli</p>
<p>Untuk gambar kelabu atau hitam-putih, kondisinya lebih rumit. Sehubungan dengan cara percetakan mengkisikan nilai kelabu menjadi dot, kaidah yang perlu diketahui adalah men-scan gambar asli agar hasil reproduksi yang tercetak memiliki frekuensi kisi antara 1,4 hingga 2 kali. Rumus resolusi minimumnya :</p>
<p>Dpi scan = (screen frequency x ukuran reproduksi x 1,4)/ukuran asli</p>
<p>Screen frequency diukur dalam lpi (lines per inch) dan merupakan setting yang sudah diketahui oleh perusahaan percetakan, jika kamu belum mengetahuinya ambil saja nilai 120 lpi. Nilai 1,4 merupakan “fudge factor” yang menunjukkan resolusi minimum yang dapat memberikan hasil yang dapat diterima pada kebanyakan peralatan output postscript. Kamu boleh saja menaikkan nilai tersebut untuk mendapatkan jaminan kualitas ekstra, tetapi jangan melebihi 2. Faktor yang lebih tinggi hanya akan menghasilkan data tambahan yang tidak dapat digunakan oleh printer yang kemudian akan terbuang percuma (dimana hal itu membuat waktu pencetakan menjadi lebih lama). Scanning pada resolusi yang lebih besar sedikit dari resolusi minimum akan memberikan tambahan keamanan dalam hal dimana kita tanpa diduga sebelumnya perlu memperbesar gambar sedikit.</p>
<p>Tips 2 : <strong>Jumlah warna scanning</strong><br />
Jenjang warna juga berpengaruh terhadap hasil scanning. Faktor ini menjelaskan seberapa jauh scanner menterjemahkan warna dari gambar asli kedalam bentuk data digital. Jika kita men-scan gambar berwarna sebaiknya menggunakan kualitas 32-bit yang telah menjadi standar editing grafis. Sebaliknya untuk gambar hitam-putih kita gunakan jenjang warna grayscale. Antara jenjang warna grayscale juga memliki kualitas berbeda-beda, pilih sesuai dengan karakteristik dari gambar kita. Misalnya untuk gambar outline sederhana kita bisa menggunakan grayscale 1-bit (black and white) sehingga ukuran file gambar yang dihasilkan nantinya tidak terlalu besar.</p>
<p>Tips 3 : <strong>Tentukan format file sasaran</strong><br />
Semua jenis format file memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seperti file BMP yang gambarnya bagus tapi memiliki ukuran file besar, atau JPEG yang ukuran file-nya terkompresi namun gambarnya terkadang terdistorsi. Semua jenis file rasanya cukup baik untuk dijadikan sasaran, namun disarankan untuk jangan menyimpan hasil scan pada format file yang terkompresi sebab gambar tersebut kemungkinan akan “dilucuti” sebagian dengan tujuan untuk memperkecil ukuran file. TIFF dan BMP merupakan salah satu pilihan yang layak walaupun berukuran besar. Namun sebaiknya kita menyimpan hasil scan tersebut pada file yang sejenis dan kompatibel dengan program editing yang akan kita gunakan, misalnya jika kita menggunakan program Photoshop maka kita menggunakan file PSD.</p>
<p>Tips 4 : <strong>Scan yang diperlukan saja</strong><br />
Cara ini cocok digunakan jika ukuran gambar komik yang kita scan lebih kecil daripada luas permukaan perekam scanner, siasanya pada scanner tipe flatbed. Sebab secara default scanner akan men-scan keseluruhan dari permukaan perekam ini sehingga proses sanning cenderung akan lama. Oleh sebab itu kita perlu mengatur scanner agar men-scan halaman komik kita saja, caranya adalah dengan melakukan cropping lewat program yang disertakan oleh scanner tersebut. Tapi ingat, ukuran cropping harus disesuaikan dengan resolusi gambar yang sudah kita tentukan sebelumnya.</p>
<p>Tips 5 : <strong>Mengatasi masalah yang mungkin timbul dari scanner</strong><br />
Sebagai alat elektronik, scanner tak luput dari berbagai masalah teknik. Adakalanya scanner tidak berfungsi dengan baik. Mungkin saja masalah yang ditimbulkan diakibatkan oleh kesalahan pengoperasian sehingga dapat kita perbaiki dengan cara-cara sederhana. Masalah-masalah tersebut antaralain :</p>
<p><strong>Gambar hasil scan pecah-pecah</strong><br />
Mungkin resolusi yang kamu gunakan kurang memadai. Coba untuk men-scan sedikit lebih besar daripada resolusi minimum dan sesuaikan kualitas warnanya (hitam-putih&gt; grayscale, berwarna&gt; 32-bit).</p>
<p><strong>Gambar hasil scan kotor dan berbercak</strong><br />
Mungkin saja permukaan kaca scanner kotor atau berjamur. Lepas kaca tersebut dari scanner dan bersihkan dengan kain lembut dan cairan pembersih kaca.</p>
<p><strong>Gambar belang sebelah</strong><br />
Jika gambar hasil scan memiliki belang berwarna kuning, biru, merah, atau lainnya, bisa jadi disebabkan oleh scanner yang terlalu lama dinyalakan. Lebih baik scanner-nya dimatikan dulu selama beberapa saat sampai dingin, lalu gunakan lagi untuk men-scan.</p>
<p><strong>Gambar terlihat besar di layar monitor</strong><br />
Hal tersebut bukan masalah, sebab ukuran gambar yang ditayangkan oleh layar monitor tergantung dari resolusi tampilannya, sehingga jauh berbeda dengan ukuran gambar sebenarnya dalam bentuk kertas. Gambar asli kamu secara metrik tetap memiliki ukuran yang sama, tidak berubah.<br />
<strong><br />
Warna gambar asli dengan warna gambar di monitor berbeda.</strong><br />
Sebenarnya warna yang telah dipindai oleh scanner tidak salah. Hal tersebut disebabkan karena perbedaan penampilan warna antara monitor dengan gambar asli. Gambar asli menampilkan warna melalui pematulan cahaya dari media kertas sedangkan monitor menampilkan warna dengan menyorotkan cahaya dari tabung fosfornya ke mata kita. Untuk mengatasi masalah ini kita perlu melakukan kalibrasi terhadap layar monitor yang caranya akan kita bahas nanti.</p>
<p><strong><em>Irwanto - Komikze99</em></strong><br />
<img class="alignleft size-full wp-image-42" title="komikaze" src="http://indiecomic.endonesa.net/mycontents/uploads/2009/12/komikaze.gif" alt="" width="80" height="40" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indiecomic.endonesa.net/tutorial-tips/tips-scanning-komik.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tips untuk para Komikus Muda</title>
		<link>http://indiecomic.endonesa.net/tutorial-tips/tips-untuk-para-komikus-muda.htm</link>
		<comments>http://indiecomic.endonesa.net/tutorial-tips/tips-untuk-para-komikus-muda.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jun 2003 09:54:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tutorial &amp; Tips]]></category>

		<category><![CDATA[job]]></category>

		<category><![CDATA[penerbit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indiecomic.endonesa.net/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[ Duit Dari Luar Negeri
Susah dapet duit dari ngegambar karena jobs yang ada sedikit? makanya,            jangan kaya katak dalam tempurung. Orderan bukan hanya ada dari dalam            negeri, tapi justru banyak dari luar negeri. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> Duit Dari Luar Negeri</strong></p>
<p>Susah dapet duit dari ngegambar karena jobs yang ada sedikit? makanya,            jangan kaya katak dalam tempurung. Orderan bukan hanya ada dari dalam            negeri, tapi justru banyak dari luar negeri. Coba aja kunjugi situs</p>
<p><a href="http://www.digitalwebbing.com/talent/" target="_blank"><strong>http://www.digitalwebbing.com/talent/<br />
</strong><br />
</a>Udah banyak kok orang Indonesia yang dapet dari jobs yang ada di            situs itu. Contohnya Faturahman (Ipat), yang bikin komik indi kompekdis.            Udah dua kali ia ngerjain jobs dari sana. Dengan mengerjakan 10 lembar            komik, ia bisa dapet duit sebesar 100 dollar.<br />
Cara kerjanya, ya tentu saja dengan memanfaatkan jaringan Internet.            Karya yang kamu kerjakan lalu discan dan dikirim melalui e-mail.<span id="more-23"></span></p>
<p>Tipsnya agar dapet kerjaan dari situs itu? Pertama, jelas mesti punya            alamat email. Kalo gak punya, cepetan deh bikin. Dan yang kedua yang            bisa sangat membantu, yaitu sebuah website berisi karya-karya kamu agar            orang yang menawarkan kerjaan tersebut bisa tau sampai mana kemampuan            kamu. Ini juga agar memudahkan biar kamu gak terus-terus nge attach            gambar yang ukuran gambarnya bisa jadi sangat besar. So, siapa bilang            internet gak terlalu berguna buat komikus?</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: x-small; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong><a name="Preview">Preview</a> Komik Indi di Majalah MTV Trax</strong></span></p>
<p><strong></strong><span style="font-size: x-small; font-family: Verdana;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"><span class="GramE">Kepada            komikus independent yang mempunyai karya komik yang ingin diulas oleh            majalah MTV TRAX, silahkan mengirimkannya ke ke alamat redaksi majalah            tersebut, mereka punya reviewer khusus komik, Gupta Mahendra.</span> <span class="GramE">Komik lokal memang sangat terbatas, jadi mereka            memang mengharapkan komik lokal supaya bisa lebih maju.</span> </span></span><span style="font-size: x-small; font-family: Arial;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"><br />
</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">So, segera            kirim ke alamat di bawah ini:</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoPlainText"><strong><span style="font-size: x-small; font-family: Arial;"><span style="font-weight: bold;">Arian            Arifin<br />
Senior Editor<br />
</span></span></strong><span style="font-size: x-small; font-family: Arial;"><span style="font-weight: bold;"><strong><br />
</strong></span><span>MTV            Trax<br />
</span> <span>Sarinah</span> <span> </span> <span>Building</span> <span>,            9th floor<br />
Jl.Thamrin Kav 11<br />
</span> <span>Jakarta</span> <span> Pusat<br />
T: 39832207, </span></span><span style="font-size: x-small; font-family: Arial;"> <span>F:            39832208</span></span><strong> </strong><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: Verdana;"> </span></span></p>
<hr noshade="noshade" />
<p align="justify"><span style="font-size: x-small; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"> <strong>CARA          PENAWARAN KOMIK KE M&amp;C COMICS - GRAMEDIA<a name="mnc"></a><br />
</strong><span style="font-size: xx-small;">Informasi ini disampaikan oleh Bpk. <strong>Rahmat          Riyadi</strong>, seorang editor dari M&amp;C Comic</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: x-small; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"> Bagaimana          memajukan komik lokal? Ya tentu saja dengan membuat karya-karya komik          lokal yang berkualitas. Bila Anda yakin komik Anda cukup berkualitas untuk          diterbitkan, tunggu apa lagi, segera tawarkan ke penerbit agar koleksi          komik lokal di pasaran bisa semakin beragam.<br />
Berikut adalah informasi dari seorang editor dari M&amp;C Comic, Bapak          Rahmat Riyadi tentang bagaimana cara menawarkan komik kita ke perusahaan          penerbitan tersebut.</span></p>
<p>Untuk komik full color, sekitar 48 halaman. Untuk komik BW, sekitar 180          halaman. Tapi kami sarankan agar komikus jangan langsung sejumlah halaman          tersebut. Kalau ada revisi, repot. Lebih baik ajukan contoh gambar sehingga          saat pengerjaan, sudah tidak banyak revisi lagi.</p>
<p>Naskah bisa diantar langsung, bisa dikirim via surat, bahkan bisa dikirim          via email. Kirim saja ke:<br />
<strong>Alamat surat:</strong> Komik Gramedia Majalah, Jl.Palmerah Selatan          3, Jakarta, 10270<br />
<strong>Contact person:</strong> Mila, sekretariat redaksi.<br />
<strong>Telepon:</strong> (021) 5483008 pes.3537-3541. <strong><br />
Fax:</strong> (021) 5483124<br />
<strong>Alamat email:</strong> <a href="mailto:tomatdepok@yahoo.com">tomatdepok@yahoo.com</a></p>
<hr noshade="noshade" />
<div><span style="font-size: x-small; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"><br />
</span><span style="font-size: x-small; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>ALFI          DAN DUA WARNA</strong><a name="alfi"></a><br />
<span style="font-size: xx-small;">Berikut adalah pengalaman Alfi dalam proses pembuatan komik          Dua Warna</span></p>
<p>Proses pembuatan komik &#8220;dua warna&#8221; sebenarnya gak jauh beda          sama yang lain, tapi ada beberapa hal yang penting banget. Pertama masalah          konsistensi. Kebanyakan kita kejebak sama semangat di awal taunya begitu          udah mulai jadi bete ngerjainnya.. yang gw tau rata-rata begitu. Gw sendiri          juga masih gitu..hehehehe secara produksi yang 54 halaman color per episode          bagi gw cukup bikin keringetan..hehehe..apalagi kalo kerja tim..</p>
<p></span></div>
<p align="justify"><span style="font-size: x-small; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;">Banyak          kendala yang gw temuin pas produksi. Emang awalnya kaya&#8217;nya enak, tapi          pas ngerjainnya masalah ada aja. Salah satunya memanajemen tim. Untungnya          gw sering ngalamin kasus begini waktu di penerbit komik terdahulu&#8230;</span></p>
<p>Balik ke masalah pengajuan, waktu itu gw ngasih komplit, dari konsep,          karakter, sama 40 episode. Waktu itu kebetulan gw gak bikin konsep lagi,          karena konsepnya udah jadi dari dulu sewaktu gw ikut festival karakter          asean&#8230; ..mmm terus ketiga, ( ini bakal komikusnya) yang paling penting          objektifitas dari komikusnya. Maksudnya, kalo bisa hindari subjektifitas          dalam melihat karya kita terhadap orang lain, biasanya kita udah merasa          &#8216;ngerti&#8217; sama karya kita, eh, gak taunya orang lain gak ngerti..?!#$#          bahasa lainnya pinter-pinter melihat kecendrungan pasar ples pikirin juga          strategi market dsb..dsb&#8230; dulu gw punya konsep yang namanya &#8216;idealisme          menembus pasar&#8217;. Beberapa kali gw pake bahkan gw uji coba di organisasi          komik gw dulu ( SEKTEKOMIK), dan hasilnya ok&#8217;s banget..hehehehe.<br />
&#8230;ok,kayaknya gitu dulu ya,nanti kalo masih kurang bisa gw tulis lagi..hehehe.</p>
<p><span style="font-size: x-small; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;">thanks,</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: x-small; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Alfi          Zachkyelle</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indiecomic.endonesa.net/tutorial-tips/tips-untuk-para-komikus-muda.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Komputer untuk membuat komik</title>
		<link>http://indiecomic.endonesa.net/tutorial-tips/komputer-untuk-membuat-komik.htm</link>
		<comments>http://indiecomic.endonesa.net/tutorial-tips/komputer-untuk-membuat-komik.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2003 17:44:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tutorial &amp; Tips]]></category>

		<category><![CDATA[komputer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indiecomic.endonesa.net/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Seiring dengan kemajuan teknologi, pembuatan komik kini semakin canggih berkat bantuan komputer. Tanpa sentuhan komputer rasanya tak mungkin mewujudkan efek-efek khusus yang begitu halus dalam pewarnaan komik. Apalagi sekarang seni rendering 3D sudah semakin mewabah di kalangan desainer grafis. Mungkin suatu saat nanti penampilan komik kita akan semakin cantik berkat teknologi ini.

Nah, sudah pasti sebagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Seiring dengan kemajuan teknologi, pembuatan komik kini semakin canggih berkat bantuan komputer. Tanpa sentuhan komputer rasanya tak mungkin mewujudkan efek-efek khusus yang begitu halus dalam pewarnaan komik. Apalagi sekarang seni rendering 3D sudah semakin mewabah di kalangan desainer grafis. Mungkin suatu saat nanti penampilan komik kita akan semakin cantik berkat teknologi ini.</em></p>
<p><em></em></p>
<p>Nah, sudah pasti sebagian komikus kita sudah pernah memoles komik-komik mereka dengan program semacam Photoshop, atau bahkan sudah ada yang melangkah lebih jauh dengan menggunakan program 3D seperti Maya. Pastilah sangat menyenangkan bisa berkarya dengan program-program komputer semacam itu. Namun sayangnya, tidak semua komikus berkesempatan untuk menikmati keberuntungan seperti itu. Komputer setidaknya masih tergolong barang mahal, dan tidak semua orang mampu membelinya.<span id="more-45"></span></p>
<p>Untuk mendapatkan komputer yang murah tentunya cukup sulit. Kita tentunya harus memiliki perencanaan yang matang sebelum membeli komputer. Spesifikasi komputer yang layak untuk menjalankan program-program grafis tidak selalu harus yang canggih, bermerk, dan mahal. Sebelumnya kita lihat kebutuhan kita dulu. Komputer itu mau kita gunakan untuk apa? Nggak lucu dong kalau kebutuhan kita hanya mengetik lalu membeli komputer Pentium 4, padahal dengan komputer sekelas Pentium 2 saja urusan mengetik sudah dapat berjalan lancar. Demikian halnya jika kita hendak membeli sebuah komputer untuk membuat komik.</p>
<p>Jangan terpaku pada merk dan kecanggihan semata. Memang benar jika semakin canggih suatu komputer maka semakin efisien komputer itu dalam menjalankan program-program. Namun bagaimana jika dana yang kita anggarkan sangat terbatas? Jangan besar pasak daripada tiang, mau yang canggih tapi duitnya nggak ada.</p>
<p>Kalau begini masalahnya kita harus jeli dalam memilih komponen-komponen komputer. Pilih komponen yang kualitasnya layak namun harganya murah dan terjangkau. Sulit memang untuk menemukan komponen semacam itu. Tapi kenyataannya harga komponen komputer cenderung menurun secara signifikan. Kalau kita sabar menunggu dan telaten menawar bukan mustahil jika kita bisa mendapatkan komponen komputer yang kita inginkan dengan harga yang terbaik. Berikut spesifikasi komputer yang menurut saya masih layak untuk menjalankan program aplikasi 2D/3D:</p>
<p><strong>Prosesor: AMD Athlon 900 MHz</strong> (sekitar Rp. 500.000)<br />
Selain harganya yang lebih murah daripada prosesor kelas Pentium, prosesor ini agaknya memiliki daya tahan yang baik. Sebenarnya saya juga hendak menggunakan AMD Duron, tapi berhubung prosesor tersebut termasuk kelas ekonomis saya tidak jadi merekomendasikannya sebab dalam urusan grafis terutama program 3D memerlukan sumber daya FPU yang cukup besar yang agaknya tidak bisa disanggupi oleh prosesor dari kelas ekonomis.</p>
<p><strong>Memory: SDRAM PC-133 512 Mb</strong> (sekitar Rp. 600.000)<br />
Jumlah memori besar dalam urusan grafis memang tak bisa ditawar-tawar lagi. Program 2D maupun 3D memang terkenal rakus memori. Oleh sebab itu sengaja saya pilihkan SDRAM karena harganya lebih murah daripada memori tipe DDR atau RDRAM. Kecepatan bus 133 MHz saya rasa sudah cukup. Lagipula kecepatan bus yang besar seperti 266 MHz keatas hanya cocok untuk program real time seperti editing film misalnya. Sedangkan untuk program rendering 3D lebih banyak jumlah memori itu justru lebih baik daripada lebih banyak kecepatan bus.</p>
<p><strong>Motherboard: ASUS A7V133-C</strong> (sekitar Rp. 750.000)<br />
Motherboard ini sudah cukup baik karena selain tidak mencangkokan beberapa fasilitas yang tidak perlu seperti RAID dan sound card, harganya juga sudah lumayan terjangkau. Chipset VIA KT133-A yang tertanam dalam motherboard ini juga sudah direkomendasikan oleh Discreet Forum (salah satu organisasi pemerhati 3D). Cocok untuk ditancapi dengan AMD Athlon dan memori SDRAM sampai kapasitas 1024 Mb.</p>
<p><strong>Kartu grafis: GeForce2 Ti 32Mb</strong> (sekitar Rp. 1.200.000)<br />
Kartu grafis ini merupakan menggunakan teknologi OpenGL yang cukup baik. Barang yang ini termasuk wajib dan memang harus ditebus dengan mahal. Sebab namanya juga komputer untuk grafis, kartu grafisnya juga harus yang terbaik. Kartu grafis ini baru berperan penting dalam viewport program 3D karena berfungsi untuk menambah detail dan kecepatan pengeditan objer 3D berbasis OpenGL. Jangan memilih GeForce seri MX karena kartu grafis ini termasuk kelas ekonomis dengan dikuranginya beberapa fasilitas penting dari seri Ti.</p>
<p><strong>Scanner</strong><br />
Kalo memang sanggup beli, belilah. Tapi kalo nggak sanggup cukup scan di rentaln aja (syukur2 kalo yang punya rentalan temen sendiri, kan bias nego).</p>
<p><strong>Harddisk Drive, Floppy Drive, CD-ROM Drive, Keyboard, Power Supply Unit (PSU), Stavolt</strong><br />
Untuk komponen-komponen diatas terserah pada kamu untuk memilihnya, pilih yang bekas dan murah juga boleh. Saran saya, untuk harddisk pilih yang kapasitasnya 20 Gb keatas karena space yang banyak cukup berguna untuk swap file dan paging bagi program-program grafis. Paging sangat penting bagi program rendering 3D karena jika saat rendering kapasitas memori sudah nggak mencukupi maka dia akan menggunakan harddisk sebagai virtual memorinya. Dan khusus untuk PSU pilih yang baru dan kekuatannya sekitar 350 Watt keatas.</p>
<p><strong>Mouse</strong> (yang bisa 3D-Scroll)<br />
Benda ini berperan sangat vital sebagai input kamu kepada komputer, oleh karena itu nggak boleh dipilih secara sembarangan. Pilih yang kualitasnya baik dan enak di tangan. Yang paling bagus adalah jenis infra red supaya tangan kamu bisa bebas ber-wira-wiri diatas mouse tanpa gangguan kabel.</p>
<p><strong>Monitor 14 inch</strong><br />
Harus yang VGA tau SVGA, kalau bisa pilih yang bekas dan berkualitas sebab komponen yang satu ini harga barunya bisa sangat mahal. Idealnya sih kita memakai monitor tipe LCD yang tidak merusak mata, tapi kalau nggak ada duit pakai CRT juga nggak apa-apa. Lebih besar ukuran layarnya lebih baik karena menambah wawasan kita terhadap gambar.</p>
<p><strong>Sistem operasi</strong><br />
OS (Operating System) yang terbaik untuk urusan grafis sebenarnya adalah sistem operasi berbasis UNIX (OS/2, Linux, IRIX, dan sebagainya) karena kestabilannya sangat baik dan lebih tahan dari virus. Tapi jika pakai sistem Windows, pilih Windows 2000 Professional. Jangan pakai Windows 95 atau 98, karena 90% masalah crashing program 3D biangnya adalah sistem operasi tersebut. Partisi yang digunakan sebaiknya NTFS, karena lebih stabil dalam penanganan file.</p>
<p><strong>Program aplikasi 2D/3D</strong><br />
Sebaiknya pilih yang versinya agak lamaan (misal Adobe Photoshop 5.0, Maya Alias Wavefront 3, 3DS Max 3.1) sebab untuk mengimbangi spesifikasi komputer kita yang low profile serta untuk menjaga kompabilitas. Program-program versi terbaru seringkali menambahkan fasilitas-fasilitas baru yang belum tentu bermanfaat atau malah-malah membebani komputer kita sendiri. Sebelum menginstall lihat dulu persyaratan software-nya, cocok tidak dengan spesifikasi komputer kita.</p>
<p><strong>Hardware atau Software yang tidak perlu diinstall</strong><br />
Kadang-kadang banyak orang salah kaprah, dengan menginstall banyak software maka komputer akan lebih stabil dan baik. Keadaannya justru sebaliknya, semakin banyak software maka justru semakin berat beban komputer itu dalam beroperasi. Beberapa software yang nggak perlu diinstall kalau kita hendak menggunakan komputer untuk membuat komik adalah driver sound, antivirus (Windows 2000 cukup aman dari virus karena sudah ada sistem file protection), memory manager, utility (macam Norton Utilites, McAfee Uninstaller, dll), MS-Office (nggak perlu sama sekali), dan program-program lainnya yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan urusan grafis. Dengan menghindarkan program-program semacam itu selain beban komputer lebih ringan, jumlah space dalam harddisk juga semakin efisien. Dan untuk hardware, tidak perlu sama sekali untuk memasang Sound Card, karena komponen yang satu ini selain nggak berguna dalam urusan grafis, juga terkenal sering mencuri memori dan mengambil alih resource IRQ.</p>
<p>Komikaze, <span class="smalltype">Posted on Tuesday 13 May 2003@ 00:11:58 </span><br />
<img class="alignleft size-full wp-image-42" title="komikaze" src="http://indiecomic.endonesa.net/mycontents/uploads/2009/12/komikaze.gif" alt="" width="80" height="40" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indiecomic.endonesa.net/tutorial-tips/komputer-untuk-membuat-komik.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Juta Judul Komik Setiap Tahun</title>
		<link>http://indiecomic.endonesa.net/berita-news/tiga-juta-judul-komik-setiap-tahun.htm</link>
		<comments>http://indiecomic.endonesa.net/berita-news/tiga-juta-judul-komik-setiap-tahun.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2003 22:38:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[Bandung]]></category>

		<category><![CDATA[ITB]]></category>

		<category><![CDATA[Manga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indiecomic.endonesa.net/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[
BAGI penggemar berat komik pasti tahu, banyak karakter yang populer (terkenal) bukan dari negeri kita sendiri. Kalau kalian jalan-jalan ke toko buku, rak-rak komik hampir tak pernah sepi dari pengunjung. Karena memang, 20-25% produk yang dijualnya berupa komik.
Bahkan top seller (penjualan terbaik) mencapai angka penjualan 100-200 buah tiap bulannya adalah komik. Sayangnya, 90% pasaran komik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_15" class="wp-caption alignright" style="width: 260px"><a href="http://indiecomic.endonesa.net/mycontents/uploads/2009/11/laput.gif"><img class="size-full wp-image-15" title="laput" src="http://indiecomic.endonesa.net/mycontents/uploads/2009/11/laput.gif" alt="PAMERAN komik di ITB pada pekan Komik Asia 2003.*dok. Panitia" width="250" height="186" /></a><p class="wp-caption-text">PAMERAN komik di ITB pada pekan Komik Asia 2003.*dok. Panitia</p></div>
<p>BAGI penggemar berat komik pasti tahu, banyak karakter yang populer (terkenal) bukan dari negeri kita sendiri. Kalau kalian jalan-jalan ke toko buku, rak-rak komik hampir tak pernah sepi dari pengunjung. Karena memang, 20-25% produk yang dijualnya berupa komik.</p>
<p>Bahkan top seller (penjualan terbaik) mencapai angka penjualan 100-200 buah tiap bulannya adalah komik. Sayangnya, 90% pasaran komik yang dijual berasal dari luar negeri, 80% di antaranya dari Jepang.</p>
<p>Kenapa banyak dari Jepang? Wajar saja karena di Jepang komik sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. <span id="more-14"></span>Komik sangat identik dengan fashion (pakaian), tak heran bila ada yang keranjingan satu tokoh hingga menjiplak model fashionnya. &#8220;Di Indonesia juga komunitas (kelompok) itu harus terbentuk, dan animo (kesukaan) masyarakat terhadap komik harus tumbuh,&#8221; ujar Tan Yue Er, wakil Direktur Studio Comicon.</p>
<p>Di Jepang komik sudah maju, tak kurang dari 10 ribu komikus yang menggeluti pekerjaannya secara serius. Tak heran bila setiap tahunnya mereka bisa membuat tak kurang dari 3 juta judul komik dan 10% di antaranya laris (terkenal). Komikus di Indonesia masih bisa dihitung dengan jari, itupun banyak yang hanya menjadikannya pekerjaan sampingan atau hobi.</p>
<p>Bagaimana dengan Indonesia? adakah yang tertarik membangkitkan komik? Nah, ini tantangan bagi kalian yang ingin memajukan komik Indonesia terutama komik yang cocok untuk anak-anak seusia kalian.</p>
<p>Nah, untuk memasyarakatkan komik, salah satu caranya dengan memberikan kesempatan koran atau tabloid untuk memuat karya para komikus, seperti &#8220;Percil&#8221; ini. Jika sudah terlihat banyak yang diminati baru bisa di terbitkan sebagai buku. Cara ini juga yang dilakukan Jepang dan negara-negara lainnya dalam memasyarakatkan komik.</p>
<p>Sebagai usaha untuk memajukan lagi komik Indonesia diadakanlah kegiatan Pekan Komik Asia 2003 merupakan kreativitas yang diadakan KBK Ilustrasi dan Seni Sekuensial, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Departemen Desain FSRD ITB di Aula Timur ITB.</p>
<p>Disebut Komik Asia karena memang pembicaranya juga datang dari negara lain sebut saja Kosei Ono dari Kokushikan University Japan dan Muliyadi Mahamood, Universiti Teknologi MARA Malaysia.</p>
<p>Kegiatannya sendiri berupa lomba komik pendek dimulai November 2002 dan sebagai puncak acara diadakan pekan KOMIK ASIA 22-24 Maret 2003 dengan menggelar seminar. Namun, selain itu juga ada workshop, pameran, dan lomba komik. (<strong>jalu/Pikiran-Rakyat</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indiecomic.endonesa.net/berita-news/tiga-juta-judul-komik-setiap-tahun.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Panji Koming: Tersenyum Sembari Merenung</title>
		<link>http://indiecomic.endonesa.net/artikel/panji-koming-tersenyum-sembari-merenung.htm</link>
		<comments>http://indiecomic.endonesa.net/artikel/panji-koming-tersenyum-sembari-merenung.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Feb 2003 22:41:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Dwi Koendoro]]></category>

		<category><![CDATA[Panji Koming]]></category>

		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indiecomic.endonesa.net/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[SETIAP hari Minggu, jika tak ada kendala &#8220;teknis&#8221;, bisa dipastikan Panji Koming akan menyambangi para pembaca harian Kompas untuk mengajak mereka &#8220;tersenyum sembari merenung&#8221;; dua hal yang kontradiktif dan teramat sulit dilakukan penduduk negeri ini pada masa rezim Orde Baru berkuasa. Ungkapan tersebut adalah sebuah &#8220;aforisma&#8221; yang menjadi penanda keunggulan komparatif Panji Koming dibandingkan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SETIAP hari Minggu, jika tak ada kendala &#8220;teknis&#8221;, bisa dipastikan Panji Koming akan menyambangi para pembaca harian Kompas untuk mengajak mereka &#8220;tersenyum sembari merenung&#8221;; dua hal yang kontradiktif dan teramat sulit dilakukan penduduk negeri ini pada masa rezim Orde Baru berkuasa. Ungkapan tersebut adalah sebuah &#8220;aforisma&#8221; yang menjadi penanda keunggulan komparatif Panji Koming dibandingkan dengan komik strip-komik strip lainnya, misalnya, komik strip John Domino karya Johny Hidayat yang dipublikasikan di harian Pos Kota, yang meskipun menyajikan pengamatan-pengamatan sosial politik secara satiris, seringkali juga menampilkan lelucon cabul dan rendahan.</p>
<p>Selain itu, menurut buku Menakar Panji Koming ini, yang pada awalnya merupakan tesis S-2 Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Jurusan Ilmu-ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada Tahun 2001, Panji Koming memiliki keunikan estetis yang tidak dapat ditemukan dalam komik strip-komik strip lainnya. <span id="more-17"></span>Keunikan itu terletak dalam dua hal yang saling melengkapi dan bersinergi ini. Pertama, kekuatan kontemplasi Dwi Koendoro selaku &#8220;Dalang Koming&#8221; dalam merespon berbagai peristiwa sosial politik yang terjadi di Tanah Air. Melalui kekuatan ini, Panji Koming mampu mengutarakan kritik-kritiknya secara substil dalam bentuk metafora (hlm. 13). Itu sebabnya, sejak pertama kali muncul pada 14 Oktober 1979, di tengah hegemoni kekuasaan Orde Baru, Panji Koming secara reguler dapat terus hadir setiap Minggu. Lebih penting dari itu, ia tetap rajin mengritik, menyindir, tetapi jarang kena sortir (hlm. 135).</p>
<p>Kedua, kemampuannya menerapkan strategi literer yang sublim sehingga mampu menampilkan pengamatannya secara kritis dan reflektif dalam bahasa visual yang komikal. Karena itu, dapat dipahami mengapa sensasi utama yang dimunculkan Panji Koming adalah kelucuan yang menggelitik pikiran pembaca untuk merenungi makna yang tersembunyi (hidden message) dibalik peristiwa-peristiwa yang divisualisasikannya (hlm. 59). Selain itu, ada juga strategi literer lain yang diterapkan dalam Panji Koming, yaitu penggunaan setting kerajaan Majapahit sebagai latar belakang penceritaan.</p>
<p>Dengan strategi ini, Dwi Koendoro secara jenial membuat analogi visual yang memperbandingkan situasi pemerintahan zaman Majapahit dengan pemerintahan Indonesia masa Orde Baru. Menurut Dwi Koendoro, sebagaimana termaktub dalam buku ini (hlm. 134), zaman Majapahit dan era Orde Baru memiliki beberapa persamaan, yakni pada kedua masa tersebut banyak terjadi intrik-intrik politik di kalangan penguasa, tipu muslihat demi kepentingan kelompok tertentu dan kekerasan yang mewarnai catatan sejarah kedua masa tersebut. Dalam kritik seni, analogi semacam ini biasa disebut dengan istilah to look at the present through the past. Dengan ini, menjadi tidak berlebihan kalau dikatakan, bahwa melalui imajinasinya Dwi Koendoro mencoba menempatkan Panji Koming sebagai cermin untuk menarik pelajaran dari masa lalu buat masa kini, dan sumber untuk meramalkan masa depan Indonesia, seperti terekam dalam gambar-gambar Panji Koming yang diciptakannya pada era reformasi 1998.<br />
***</p>
<p>Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa reformasi politik yang terjadi pada tahun 1998 telah membawa angin segar keterbukaan bagi pers Indonesia. Lebih dari itu, berkat reformasi pers Indonesia kembali menemukan eksistensinya sebagai &#8220;anjing penjaga&#8221; demokrasi setelah kurang lebih 32 tahun dikungkung oleh tirani kekuasaan Orde Baru. Ini terlihat, antara lain dari sikap mereka yang tak lagi takut mempublikasikan berita-berita faktual yang menyentuh wilayah <em>taboo topics</em> pada masa itu, seperti bisnis keluarga Cendana, Dwi Fungsi ABRI dan kepemimpinan Soeharto dengan kritik tajam, tanpa tedeng aling-aling dan bahkan vulgar. Andre Hardjana, seorang ahli ilmu komunikasi dan pengamat pers nasional, seperti dikutip Setiawan dalam buku ini (hlm. 9), mengkonstantasi sikap itu sebagai ledakan dari serangkaian peristiwa penyimpangan yang terabaikan.</p>
<p>Sebagai sebuah media massa cetak yang sudah berumur cukup tua dan mapan di dunia pers Indonesia, Kompas tak urung merasakan juga angin segar keterbukaan yang dihembuskan oleh reformasi 1998. Namun, berbeda dengan media-media lainnya, Kompas tetap konsisten menyuarakan kritik-kritiknya selaras dengan visinya sebagai pembawa &#8220;Amanat Hati Nurani Rakyat&#8221; secara alus, obyektif dan tidak kasar. Konsistensi ini diperlihatkan Kompas, misalnya lewat Panji Koming dengan merepresentasikannya sebagai kartun editorial. Di sini, Kompas seperti hendak memberikan contoh kepada media-media lainnya bagaimana cara mengajukan kritik yang halus tetapi memberi pencerahan dan menghibur pembaca. Hal ini bisa dimaklumi dan dimungkinkan terjadi karena Panji Koming mempergunakan cara-cara sebagai berikut: (1) penggunaan <em>metafora pictorial</em> untuk menggambarkan tokoh maupun situasi aktual; (2) tokoh tetap dan berkelanjutan, jadi masing-masing mempunyai watak konsisten; (3) penggunaan anakronisme dalam teknik penceritaan; (4) mengangkat pandangan-pandangan umum yang hidup di tengah masyarakat (hlm. 135).</p>
<p>Itulah sebabnya, pembaca tidak akan menemukan visualisasi diri tokoh-tokoh pemerintahan rezim Soeharto dalam adegan strip &#8220;Mati Rasa&#8221;, misalnya, sekalipun adegan ini ditujukan untuk mengritik pemerintah dan terutama Presiden Soeharto yang dianggap sudah &#8220;mati rasa&#8221; karena terlalu lama berkuasa sehingga tidak peka lagi terhadap suara dan penderitaan rakyat (hlm. 94-98). Begitupun dalam adegan-adegan lainnya, yang disaksikan pembaca hanyalah penggambaran tingkah-polah Denmas Ariakendor (Orang kepercayaan Patih Logender yang memiliki watak licik, culas, dan berpegang teguh pada filsafat &#8220;katak&#8221;, yakni menyembah atasan dan menginjak bawahan) yang selalu dikomentari secara sarkartis entah oleh Koming, Pailul (sahabat setia Koming), Ni Woro Ciblon (pacar Koming), Ni Dyah Gembili (pacar Pailul), atau Si Kirik dengan gonggongan dan atau gigitannya. Sedikit variasi adegan dimunculkan lewat penggambaran tokoh Empu Randu Bantal (sosok cendekiawan yang kurang cerdik dan kurang pandai), Bujel dan Trinil (keponakan Koming), Hulubalang keraton, dan Unsur alam (yang paling sering digambarkan adalah buah kelapa yang jatuh menimpa kepala Denmas Ariakendor).</p>
<p>Berdasarkan itu semua, tidak salah kalau Setiawan mengkonstatasikan bahwa Panji Koming merupakan bentuk lain dari teknik penyajian opini redaksi Kompas, yang tidak sekadar menjadi hiburan visual bagi pembacanya. Panji Koming memanggul amanat redaksional yang tidak secara eksplisit dijelaskan. Namun, biasanya ia merupakan representasi dari esensi berita yang banyak mendapat tanggapan masyarakat (hlm. 134). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Panji Koming bukan semata-mata hanya merefleksikan pemikiran Dwi Koendoro, selaku penggambar Panji Koming, namun juga merupakan refleksi dari kultur dan pemikiran politik Kompas.</p>
<p>Sampai di sini, perlu dikemukakan sedikit kelemahan buku ini. Kelemahan buku ini terletak pada inkonsistensi Setiawan dalam mengidentifikasi Panji Koming secara kategoris. Terkadang ia menyebut Panji Koming sebagai kartun (hlm. 70), komik kartun (hlm. 17), komik strip (hlm. 59), dan tidak jarang menamakan Panji Koming dengan sebutan kartun editorial (hlm. 11, 67). Yang paling sering, ia mengidentifikasi Panji Koming sebagai komik (hlm. sampul depan, 14, 16, 85, 134-135). Padahal, secara definitif, sebagaimana diuraikannya secara rinci pada Bab II (hlm. 21-52), kelima sebutan atau istilah itu memiliki pengertian yang berbeda-beda dan mempunyai keunikan masing-masing. Namun demikian, kelemahan itu sama sekali tidak mengurangi signifikansi buku ini. Sebab inilah buku pertama yang secara serius berupaya menafsir atau mengungkap makna yang tersirat dari komik strip Panji Koming sehubungan dengan konteks sosial politik Indonesia pada tahun 1998.</p>
<p>(Wahyudin, dimuat dalam Vision.net.id)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indiecomic.endonesa.net/artikel/panji-koming-tersenyum-sembari-merenung.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Komik Islami, di Tengah ”Gempuran” Jepang</title>
		<link>http://indiecomic.endonesa.net/berita-news/komik-islami-di-tengah-%e2%80%9dgempuran%e2%80%9d-jepang.htm</link>
		<comments>http://indiecomic.endonesa.net/berita-news/komik-islami-di-tengah-%e2%80%9dgempuran%e2%80%9d-jepang.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Aug 2002 22:22:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[anak]]></category>

		<category><![CDATA[Gramedia]]></category>

		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Mizan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indiecomic.endonesa.net/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[KEGEMARAN anak-anak membaca komik-komik islami, tampak mulai bagus. Namun antusiasme itu tidak dibarengi sediaan komik yang sesuai kebutuhan mereka
Di sisi lain, ketersediaan komik-komik Islam cenderung terbatas dan harganya pun rada mahal dibandingkan komik-komik produk impor, yang notabene materi cerita dan gambarnya kurang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak Islam. Demikian halnya dari aspek penyusun atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KEGEMARAN anak-anak membaca komik-komik islami, tampak mulai bagus. Namun antusiasme itu tidak dibarengi sediaan komik yang sesuai kebutuhan mereka</p>
<p>Di sisi lain, ketersediaan komik-komik Islam cenderung terbatas dan harganya pun rada mahal dibandingkan komik-komik produk impor, yang notabene materi cerita dan gambarnya kurang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak Islam. Demikian halnya dari aspek penyusun atau penulis cerita komik-komik Islam maupun komikus muslim, cenderung minim jumlahnya.</p>
<p>Menurut pengamat pendidikan-keagamaan, Dr. KH Afif Muhammad, MA., kehadiran komik-komik Islam sungguh penting dalam kehidupan di masa sekarang. Alasannya, komik-komik Islam itu bermanfaat buat &#8220;mengimbangi&#8221; kehadiran komik-komik dari mancanegara yang jelas tidak sejalan dengan ajaran Islam<span id="more-9"></span> (lihat rubruk &#8220;Boks&#8221;, Red).</p>
<p>Di Indonesia sendiri, memang baru ada beberapa penerbit Islam yang mau terjun ke lini produk komik-komik Islam. Tentunya mereka bersedia membuat produk tersebut, setelah melakukan berbagai pertimbangan yang matang soal peluang bisnisnya.</p>
<p>Menurut Salman Arif&#8211;penanggungjawab lini produk Komik Mizan Indonesia&#8211;, komik pertama Mizan yang berhasil adalah komik kisah sejarah nabi gambaran komikus Nurwahidin Bandung. Komik itu sarat dengan muatan pendidikan agama Islam. Dipasarkan pada tahun 1996, dan diterima di lingkungan pendidikan, bahkan menjadi bahan bacaan siswa SD di lingkungan sekolah Islam.</p>
<p>&#8220;Mizan sendiri boleh dibilang kebat-kebit saat mencoba merintis komik-komik asli buatan komikus lokal. Namun toh kita sepakat pada satu bentuk kepercayaan bahwa produk apa pun yang kita buat, pasti akan diserap oleh pasar,&#8221; tutur Salman.</p>
<p>Dikemukakannya, visi Mizan tentang komik selain menyediakan bacaan alternatif dari komik yang sudah ada, juga menjadikan komik sebagai sebuah media perjuangan. Mizan berusaha menjadi wadah untuk mengendapkan kesadaran kolektif para komikus melalui lini produk Mizan Komik Indonesia. Jika kesadaran kolektif ini sudah muncul, harapan berikutnya adalah lahirnya strategi kebudayaan. Karena kita percaya komik tidak sekadar industri, tapi juga perjuangan. Siapa tahu di kemudian hari komik bisa dinikmati sebagai bagian dari sastra dan dakwah Islamiyah, yang bisa memicu dialog dan kontemplasi.</p>
<p>Menyinggung tentang komik yang pernah diproduk Mizan, Salman mengatakan, cukup banyak jenis dan eksemplarnya. Misalnya, ada jenis Komik Ibadah, Komik Mio, Komik Ashr, Komik 1001 Malam dengan tokohnya Abunawas, Komik Lucu, Komik Petualangan, Komik Islami, Komik Remaja, Nomik atau Novel Komik &#8220;Olin&#8221;, dan bahkan ada pula Poster Komik yang berukuran besar.</p>
<p>&#8220;Tokoh Abunawas dalam komik 1001 Malam yang dibuat Mizan, itu sungguh sukses di pasaran. Isinya itu meramu cerita dengan dialog khas Betawi para tokohnya. Dan kami yakin, kisah Abunawas itu sudah pasti dikenal pasar sehingga bisa mengundang daya tarik sekaligus mengurangi risiko eksperimen cerita,&#8221; kata Salman.</p>
<p>Beberapa orangtua muslim yang anak-anaknya menggemari komik Islam pada umumnya mengatakan soal kebutuhannya atas kehadiran komik-komik Islam. Selama ini, ungkap mereka, dari segi kuantitas maupun kualitas ternyata komik-komik Islam belum bisa mengungguli komik-komik non-Islam. Bahkan dari segi harganya, juga jauh lebih mahal. Akibatnya, banyak orangtua muslim yang berat untuk membeli komik-komik Islam.</p>
<p>Dalam pandangan Drs. Abdul Choliq Wijaya, S.Ag., S.IP, komik Islam itu seharusnya dijual dengan harga murah dan kualitasnya juga baik seperti kualitas kertasnya sehingga bisa awet tatkala berada di tangan anak-anak. &#8220;Kan bisa saja untuk penerbit yang besar melakukan subsidi silang agar biaya produksi komik bisa diatasi sehingga tidak menjual komik Islam tersebut dengan harga mahal,&#8221; ujar Abdul Choliq.</p>
<p>Namun harapan semacam itu ditolak oleh sejumlah penerbit. Misalnya, pihak Mizan sangat sulit menurunkan harga jual komik-komik Islam. Mengapa? Menurut Salman Arif, karena biaya produksinya memang besar dan dicetak dengan kualitas kertas yang baik.</p>
<p>Lalu, bagaimanakah solusi untuk mengatasi dahaganya sebagian anak-anak Islam terhadap komik-komik bernuansa Islam?</p>
<p>Dr. Zaki Su&#8217;ud&#8211;dosen ITB yang anaknya sekolah di SDIT Imam Bukhari Jatinangor&#8211;menyarankan agar sekolah-sekolah dasar, terutama yang dikelola umat Islam&#8211;untuk mendirikan perpustakaan. Selain itu, juga diselenggarakan program amal shaleh atau wakaf buku untuk mengisi ruang perpustakaan.</p>
<p>Menurut Ir. Masudin&#8211;Kepsek SDIT Imam Bukhari&#8211;, pola penyediaan perpustakaan sesungguhnya sangat bermanfaat bagi para siswa yang haus terhadap bahan bacaan, baik itu komik maupun lainnya. Lewat perpustakaanlah, dapat digerakan kegiatan pengumpulan atau wakaf buku bekas atau buku baru.</p>
<p>&#8220;Bisa saja, misalnya, bagi siswa baru atau siswa yang naik kelas maupun tamat, diimbau memberi sumbangan berupa buku untuk di perpustakaan. Ya, tentunya setelah buku sumbangan itu terkumpul, pihak sekolah harus menseleksinya mana yang layak dibaca dan mana yang tidak. Begitu pula perlu diatur tatacara peminjaman buku dari perpustakaan, seperti kapan dan buku apa saja yang boleh dipinjam dan dibawa ke rumah,&#8221; tutur Masudin.</p>
<p>* *</p>
<p>SEDANGKAN Direktur Pendidikan Al Ma&#8217;soem, Drs. Asep Sujana berpendapat, sudah selayaknya pihak sekolah bekerjasama dengan orangtua murid untuk mempercepat pendirian perpustakaan bilamana di sekolah yang bersangkutan belum ada sarana perpustakaan. Alasannya, perpustakaan itu merupakan salah satu bagian penting dari proses belajar-mengajar.</p>
<p>&#8220;Ya, bisa dibilang, bukanlah sekolahan kalau tidak ada sarana perpustakaan. Dan perpustakaan itu perlu ada sebagaimana sarana-sarana pendidikan lain, seperti laboratorium dan sejenisnya. Di SD Al Ma&#8217;soem, misalnya, kami dirikan sarana perpustakaan. Dengan harapan agar para siswa bisa memanfaatkan buku-buku di perpustakaan untuk meningkatkan pengetahuannya,&#8221; tutur Asep Sujana.</p>
<p>Seandainya di ruang perpustakaan itu ada bahan bacaan jenis komik, menurut Ny. Diah Fatma, SE., sudah selayaknya benar-benar diseleksi. Jangan sampai semua jenis komik atau komik-komik yang kurang mendidik, disimpan di ruang perpustakaan. &#8220;Kan bisa saja, ada komik yang nuansa dakwahnya minim, bahkan bersifat menggerogoti aqidah Islamiyah atau membuat bingung siswa yang membacanya,&#8221; ujar Humas Sekolah Darul Hikam ini.</p>
<p>Bila perpustakaan sudah ada, peraturan pemanfaatannya sudah dibuat dan ada petugas yang melayaninya, lalu apa yang perlu dilakukan selanjutnya?</p>
<p>Baik Masudin, Asep Sujana maupun Diah Fatma merasa sependapat tentang perlunya pihak sekolah dan juga orangtua bersama-sama memberi motivasi agar anak-anak bergairah membaca. Sekolah hendakya berperan dalam mendukung budaya gemar mebaca. Jangan sampai sekolah terlalu berorientasi pada upaya siswa agar memperoleh nilai baik, seraya tidak mengarahkannya untuk bergairah mendapatkan ilmu pengetahuan lewat kegiatan membaca.</p>
<p>Dalam konteks ini, menurut Abdul Choliq Wijaya, guru hendaknya tidak hanya menganjurkan membaca buku yang ada kaitannya dengan materi pelajaran di sekolah atau materi yang akan dikeluarkan dalam ulangan. Tapi, guru juga menganjurkan siswa agar selalu menambah wawasannya dengan membaca buku-buku dari jenis apa saja asalkan sesuai dengan syariat Islam.</p>
<p>&#8220;Orangtua dan guru juga perlu mengarahkan siswa agar tidak selalu bergantung pada televisi dalam menambah pengetahuannya. Katakan kepada siswa SD, membaca buku lain di luar pelajaran sekolah seperti baca komik Islam, itu juga sangat bermanfaat,&#8221; tutur Abdul Choliq.</p>
<p>**</p>
<p>MEMBANJIRNYA komik-komik impor, terutama dari Jepang tak dapat kita pungkiri. Belum lagi ditunjang oleh media audiovisual yang menayangkan animenya (sebutan film kartun di jepang). Minat anak terhadap komik pun menjadi besar.</p>
<p>Hanya saja, yang menjadi pertanyaan dan kekhawatiran orangtua, apakah isi dan gambar yang disajikan sudah sesuai dengan budaya dan aqidah yang dianut? Pilihan sulit jika dihadapkan pertanyaan ini, tentunya sebagai orangtua, kita tak ingin anaknya dianggap &#8220;kuper&#8221; (kurang pergaulan). Untuk itu, orangtua pun terpaksa mengalah dan dengan berat hati menuruti kemauan anak.</p>
<p>Di lain pihak untuk mendapatkan komik yang digemari anak-anak dari produk lokal masih jarang didapat, sehingga orangtua juga tak punya pilihan yang banyak untuk memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Belum lagi kendala kualitas produk lokal terhadap isi dan gambarnya yang kurang digemari anak-anak.</p>
<p>Jika ada yang mencap produk impor itu kurang sesuai dengan nilai-nilai agama serta moral bangsa Indonesia wajar saja, karena memang budaya di negeri asalnya boleh jadi seperti yang digambarkan dalam komik itu tadi.</p>
<p>Mayoritas masyarakat muslim tentu mengharapkan tak sekadar memberikan suatu media bacaan yang hanya sebagai hiburan, tapi ada unsur edukasi dan spiritualnya. Hadirnya komik-komik islami yang menyajikan cerita-cerita sarat nilai tanpa menggurui dengan mengajak tanpa memaksa, akan memberikan nuansa baru bagi orangtua untuk menjadi media alternatif.</p>
<p>Selama kemasannya menarik, setiap nuansa kehidupan dirangkai dalam koridor syariat islam, komik-komik yang diterbitkan Asy Syaamil maupun Mizan serta penerbit lainnya bisa menjadi pelengkap. Kehadiran mereka mengisi kekosongan produk komik dalam negeri.</p>
<p>Di TB.Gramedia saja sekitar 20-25% produk yang dijualnya berupa komik, bahkan top seller yang mencapai angka penjualan 100-200 buah tiap bulannya adalah komik. Sayangnya, 90% pasaran komik yang dijual berasal dari luar negeri, 80% di antaranya adalah komik Jepang. Jika angka itu bisa digeser dan proporsinya berimbang dengan produk lokal, tentu saja sebuah prestasi yang luar biasa.</p>
<p>&#8220;Di Jepang komik sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Komik sangat identik dengan fashion, maka tak heran bila ada yang keranjingan satu tokoh hingga menjiplak model fashionnya sama. Maka di Indonesia juga komunitas itu harus terbentuk, dan animo masyarakat terhadap komik harus tumbuh,&#8221; kata Tan Yue Er, wakil direktur studio komik Comicon.</p>
<p>Fenomena komik anak Islam memang sebuah alternatif media bacaan yang patut dipikirkan. Setidaknya, upaya ini bisa menjadi jalan bagi bangkitnya perkomikan lokal. Dulu komik lokal cukup laku daan popler karena tidak ada pilihan. Kemasan yang kian hari</p>
<p>memprihatinkan isi maupun gambar yang kaku, juga tak cepat ditanggapi penerbit. Buntutnya, ketika produk impor membanjir di pasaran, penggemar komikpun memiliki banyak pilihan.</p>
<p>&#8220;Komik Islam menjadi sebuah harapan, oase bagi penikmat komik ditengah gersangnya nilai-nilai luhur agama yang tak didapat dari komik impor,&#8221; kata Eka Wardhana, manajer penerbitan Asy Syaamil.</p>
<p>&#8220;Hanya saja, jika terlalu mensegmentasikan diri pada pasar tertentu akan menyulitkan bagi perkembangan pemasaran produk itu sendiri. Kalau ada penerbit yang mau mencoba, itu bagus,&#8221; Robby Alexander, kasie penjualan TB. Gramedia Merdeka Bandung.</p>
<p><strong>Aji/EYP (&#8221;PR&#8221;)/Jalu</strong>/Pikiran-Rakyat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indiecomic.endonesa.net/berita-news/komik-islami-di-tengah-%e2%80%9dgempuran%e2%80%9d-jepang.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mendiskusikan tentang &#8220;Riset Komik&#8221;</title>
		<link>http://indiecomic.endonesa.net/komunitas-community/mendiskusikan-tentang-riset-komik.htm</link>
		<comments>http://indiecomic.endonesa.net/komunitas-community/mendiskusikan-tentang-riset-komik.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Mar 2002 10:04:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>

		<category><![CDATA[penelitian]]></category>

		<category><![CDATA[riset]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indiecomic.endonesa.net/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Seminggu lebih ini, saya lihat di beberapa milis komik, memeprbincangkan &#8220;Riset Komik&#8221; .
Nah, gimana kalau difokuskan lagi&#8230;
Gimana sih cara meriset komik yang baik? Standarnya? Dari Riset Komik , berpa persenkan, komik yang berkualitas akan muncul? Dengan riset, bakal beragamkah komik yang bakal muncul?
Atau semuanya bakal mengejar pembaca terbanyak&#8230; Yang katanya didominasi wanita&#8230;
Atau ada hal lainnya? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seminggu lebih ini, saya lihat di beberapa milis komik, memeprbincangkan &#8220;Riset Komik&#8221; .<br />
Nah, gimana kalau difokuskan lagi&#8230;</p>
<p>Gimana sih cara meriset komik yang baik? Standarnya? Dari Riset Komik , berpa persenkan, komik yang berkualitas akan muncul? Dengan riset, bakal beragamkah komik yang bakal muncul?</p>
<p>Atau semuanya bakal mengejar pembaca terbanyak&#8230; Yang katanya didominasi wanita&#8230;<br />
Atau ada hal lainnya? Dan hasil riset komik ini bakal lebih berguna buat komikus? Penerbit? Atau pembaca? Perbedaan riset komiknya&#8230;dipengaruhi apa saja&#8230;</p>
<p>Penting Riset atau penting mempertahankan sebuah karakter komik?<span id="more-27"></span><br />
Kalau saya sendiri sejauh ini ngomik untuk dibaca semua orang dengan berusaha menyebarkannya dikit demi sedikit, tapi memuaskan dari segi proses dan hasilnya bagi diri saya pribadi&#8230;</p>
<p>Apakah hanya riset yang bisa membuat komikus berdiri tegak sebgai komikus?<br />
Jadi seberapa pentingkah riset? Terimakasih</p>
<p><strong>ahmadzeni</strong></p>
<hr />kira2 2 pekan lalu ada presentasi dari Nielsen Media Research di MQ Corp mengenai riset pasar, di sana diterangkan mengenai riset media baik media cetak (koran, tabloid, majalah) radio maupun TV serta iklan secara umum, riset yg mereka lakukan sbb :</p>
<p>- mrk pilih 9 kota besar &amp; greaternya jkt, greater jkt (botabek), bdg, smg, jgj, greater jgj (gerbangkartasila), sby, greater sby, denpasar, makassar, palembang &amp; medan (apalin aja kota audisi AFI)</p>
<p>- total responden 13.000 saja jumlah ini sdh dg pertimbangan tdk terlalu sedikit utk bs dianalisis &amp; tdk terlalu banyak, sbb makin banyak belum tentu makin bagus, krn hasilnya stl di atas jumlah tsb cenderung sama / sudah terwakili jadi kira2 1000 org per kota</p>
<p>-pemilihan responden dilakukan dg membagi wilayah kota/jumlah populasi dan ber jenjang mulai tk kodya sd kelurahan jd bisa aja daerah yg padat dipilih lbh banyak respondennya yg dipilih adalah perumahan&#8230;penghuni yg ada di rumah jd tdk termasuk outdoor, mal , kantor dll. data yg dikumpulkan bisa customize sesuai kebutuhan perusahaan atau standar</p>
<p>yg standar biasanya<br />
-Male/Female<br />
-SES : A, B1, B2, C1, C2, D<br />
yg A itu standarnya 1,65 jt/bl di luar pengeluaran rutin<br />
-Usia : klusternya mulai 5-9, 10 - 14, 15 - 19 dst<br />
-Lifestyle :<br />
-pengeluaran &amp; skala prioritasnya utk apa saja<br />
-meliputi merk produk-produk apa yg biasa dipakai sehari-hari<br />
-kebiasaan, apa yg dilakukan jam 06-08, 08-10 dst weekdays, weekend</p>
<p>semua itu utk memetakan NEEDS / Kebutuhan sifatnya kuantitatif</p>
<p>Jadi utk komik bisa dihubungkan dg</p>
<p>-Seberapa besar prioritas org beli komik dibanding produk lainnya misal majalah atau buku Jadi komik bisa jadi lebih tepat bila masuk majalah atau koran dibanding buku misalnya dilihat dr harga, frekuensi, coverage dll</p>
<p>-Dari produk &amp; habit, bisa dilihat knowledge &amp; idiom-idiom yg dikenal sbb tiap produk yg dipakai, punya dunia-nya sendiri misal : nescafe itu diminum sama org yg suka musik ato suka sport ato suka baca sih?</p>
<p>utk yg customize<br />
ini sdh menyangkut aspek kualitatif, WANTS bukan lagi NEEDS dan aspek WHY?nya jadi tdk bisa ditunjukkan dg angka</p>
<p>misal :</p>
<p>- Mengapa pilih A?<br />
Apa yg disukai darinya?<br />
Bagaimana kesan A?<br />
apa mewakili image cerdas?<br />
jantan?<br />
imut? ato apa? jangan-jangan kampungan<br />
Apa reaksi orang dg keputusan kamu milih A?<br />
sampai ke sikap thd suatu isu, trend dll<br />
- Mengapa tidak pilih B?<br />
Apa yg tdk disukai darinya?<br />
dst</p>
<p>Nah, kalo itu sudah terpetakan kita tinggal adjust komik kita dg NEEDS &amp; WANTSnya. Jadi &#8216;message&#8217; di komik bisa tepat sasaran</p>
<p>misal<br />
komik utk anak usia 10-14 itu genrenya ini, visualisasinya begini, cara komunikasinya gini, idiom-idiom yg dipakai ini &amp; itu harganya segini, format &amp; bahannya ini, sebarannya di sini, ngiklannya di mana, bikin eventnya apa, produk turunanya ini dst</p>
<p>How to start?</p>
<p>Mulai dr Focus Discussion Group kalo susah mulai dr yg gede, kumpulin 20 - 100 org bisa dikumpulin lewat milis, forum reguler dg format nonton bareng, klab workshop dll pilih sampelnya disebar, misal dr beberapa sekolah se Jkt.</p>
<p>Paling mudah mulai dr komunitas yg sudah ada misal komunitas komik, anime, seni dll</p>
<p>Ini relatif efisien kalo blum bisa riset u ribuan org</p>
<p>Jangan lupa benefit apa yg bisa didapat dr mereka ada sedikit &#8216;tanda terima kasih&#8217; atau &#8216;reward&#8217; bentuknya bisa apa-aja, bisa hadiah, fasilitas, akses sd info update dll</p>
<p>shg mrk bisa all-out</p>
<p>Metode terakhir ini sdg kami lakukan di Bdg dg melibatkan anak2 dr bbrp sekolah di Bdg &amp; sekitarnya</p>
<p>ternyata hasilnya mengejutkan apa yg semula jd asumsi awal kami ketika dihadapkan dg pasar rilnya banyak yg terbantah, terkoreksi dst jd misinya memperkecil gap antara asumsi kita dg asumsi pasar</p>
<p>jd tanpa riset tsb berarti sebelumnya kami hanya ngarang tebak-tebakan, sok PD ieu karya urang alus sorangan nu batur goreng, (ini karya saya paling bagus yg lain jelek) sok kenal &amp; sok bisa membaca pikiran orang lain, sok idola, apa yg kita suka org lain juga suka</p>
<p>buntutnya<br />
CAPE GAWE TAPI TEU KA PAKE!</p>
<p><strong>&#8220;trio berlima&#8221;</strong></p>
<hr />Oke, thanks Oyas&#8230;</p>
<p>Memang teorinya seperti itu ya&#8230;</p>
<p>Tapi pelaksanaannya gak segampang itu.<br />
Dan kalau berdasar teori rasanya kurang efektif.</p>
<p>Kalau riset yang terefektif dari segi waktu, budget&#8230;dan faktor lainnya?</p>
<p>Ini kan buat komik&#8230;seperti halnya membuat film&#8230;</p>
<p>Yahh membuat sebuah cerita.</p>
<p>Dan kayaknya kerjaan membuat cerita gak ada yang mubadzir.</p>
<p>Dulu saya pernah mau bikin angket ke sebuah perumahan kelas menengah ke atas di Bandung.</p>
<p>Kayaknya buat nyebar yang namanya angket&#8230; waktu dan tenaga serta budget yang dikeluarkan lumayan juga.</p>
<p>Saya samapi merasakan birokrasi perizinannya ke departemen sosopol dan Departemen kependudukan.<br />
Pastinya capenya setengah mati&#8230;<br />
Dijabani saja, soalnya buat tugas akhir&#8230;</p>
<p>Yang akhirnya ketika izinnya diperoleh, ternyata kesimpulannya enggak perlu survey atau sebar angket yang sedemikian rupa seperti teori&#8230;</p>
<p>Jadi riset yang paling efektif sebaiknya seperti apa?<br />
Khususnya Riset efektif buat komik.</p>
<p>trims  <strong>ahmadzeni</strong></p>
<hr />OK, kalo kita pake jalur resmi dg gunain lembaga riset profesional, emang budgetnya gede</p>
<p>dr lembaga riset yg pernah kami kontak angka rata2nya 35 jt-an, minimal 25 juta</p>
<p>proses di atas adalah proses JUAL-BELI itu memang cara yg paling lazim tapi bukan satu-satunya cara</p>
<p>spt kita lagi ngidam bala-bala kalo mau terima jadi, ya beli jadi tapi bisa juga kan seorang bawa tepung, yg lain bawa toge, ngkol, ndog dst akhirnya bukan malah beli bala-bala malah jualan bala-bala hasilnya dibagi rame-rame</p>
<p>utk riset sama juga<br />
kalo smua kerjaan riset mo dikerjain sendirian selamat pingsan&#8230;duit abis, tenaga abis, pikiran abis nggak worthed</p>
<p>trus mindsetnya, jgn dipatok 40 jt ga mungkin bisa tapi gimana bisa mulai dr 500 perak bisa jalan dan kalo bisa malah menghasilkan yg 40 juta tadi</p>
<p>SNOWBALLING &amp; BUTTERFLY EFFECT<br />
kita bisa pake sistem &#8217;snowball&#8217; atau &#8216;butterfly effect&#8217;, dr yg kecil-kecil tapi terus nyambung sd jd gde</p>
<p>percayalah dg &#8216;modal dengkul&#8217;<br />
percuma ngangkut &#8216;duit&#8217; berjuta-juta kalo dengkul blum kuat bakal gempor, kseleo, duit yg diangkut juga tumpah bececeran&#8230;percuma</p>
<p>STUDI KASUS<br />
Pada awalnya kami sempat &#8216;kaget sambil pura-pura tetap senyum tampak tenang&#8217; ketika denger angka tadi</p>
<p>akhirnya, kami bikin program riset bentuknya berupa paket produk dan kegiatan</p>
<p>INTINYA<br />
Bagaimana caranya agar riset ini dapat membiayai dirinya sendiri?</p>
<p>dirancanglah satu produk dg kuantitas yah cukuplah, jauh dr angka mass product</p>
<p>kemudian produk itu diluncurkan dalam bentuk kegiatan</p>
<p>lho, bikin kegiatan kan mahal!<br />
Nggak, kalo kita bisa nebeng!</p>
<p>Step <strong>1. PROSPEKTING</strong></p>
<p>Lalu kita mengundang sekolah-sekolah</p>
<p>Kpd penyelenggara event kita jaminkan bahwa kita bisa datangkan banyak pengunjung dr sekolah-sekolah yg sebetulnya bakal jadi subjek riset kita dg begitu si penyelenggara event terangkat juga</p>
<p>Kpd sekolah juga kami tawarkan follow up bhw kegiatan ini akan menjadi awal dr kegiatan lanjutan yg sudah diprogram selama setahun</p>
<p>kalo ikutan sekarang, bakal terekspos terus selama setahun&#8230;ingat ini credit point bagi guru</p>
<p>point lain adalah piala &amp; sertifikat piala itu tdk mahal-mahal amat, yg di bawah 50.000 an banyak tapi bangganya itu yg ga kebeli sama sekolah, siswa &amp; orangtua</p>
<p>Sekali dapat piala, PD peserta akan naik &amp; yakin akan bisa meraih piala berikutnya Ini POTENSI!</p>
<p>dari situ kita dapat database peserta</p>
<p>Step <strong>2. FOLLOW UP</strong></p>
<p>Database yg ada lalu kami follow up tiap 1-2 minggu sekali, kami datangi sekolah yg terlibat scr bergantian sambil refresh memory &amp; kasi laporan &amp; bicara ttg kegiatan lanjutan</p>
<p>Setelah dpt tanggalnya, kami datang dg 100 siswa per kunjungan database pun bertambah</p>
<p>pada tiap kunjungan kami sebar &#8216;kuisioner&#8217; dlm bentuk bukan kuisioner, tapi teka-teki berhadiah termasuk wawancara dlm format &#8216;liputan&#8217;</p>
<p>dari sana kami dapat feedback yg bisa diolah sbg data riset</p>
<p>hasil kegiatan didokumentasikan ini penting utk nunjukin POWER kita</p>
<p>Step <strong>3. SHOWING FORCE</strong></p>
<p>Nah, dalam 3 bulan hitung saja database yg bisa kita punya. Catatan itu bisa ja di kekuatan utk tawar menawar dg sponsor. Apalagi dg dokumentasi kegiatan</p>
<p>Step <strong>4. BARGAINING</strong></p>
<p>Sudah, modal tadi sdh cukup utk &#8216;jualan&#8217; ke sponsor ato menarik minat sekolah lain utk terlibat dlm kegiatan tsb</p>
<p>Step <strong>5. MAINTAINING</strong></p>
<p>Jgn lupa refresh terus memory pihak2 yg terlibat, shg isu yg tadinya ga penting krn direfresh &amp; diupdate terus jd menempati &#8216;cache memory&#8217; di RAM otak</p>
<p>sampai saat ini produk itu sendiri kita buat dg perjanjian ke produsen dg bayar 2 bl di belakang dg kontrak kontinuitas produksi (ini yg bisa jadi tawaran)</p>
<p>jadi utk memulainya relatif minim modal tapi padat NETWORKING! Intinya mempertemukan kepentingan-kepentingan dan sinergi</p>
<p>U kasus komik, masa sih ga ada penerbit yg &#8216;cling&#8217; denger kaya ginian.<br />
Apalagi penerbit besar.</p>
<p>JAdi sambil bikin produk, sambil riset, untung bareng2 kan enak win-win-win</p>
<p><strong>SIMPULAN</strong></p>
<p>Kalo mo bikin komik sebaiknya posisikan komik itu dalam bentuk PROGRAM bukan cuma PRODUK</p>
<p>PRODUK hanya salah satu elemen PROGRAM</p>
<p>PROGRAM setahun jauh lebih menarik drpd SINGLE PRODUCT</p>
<p>Dengan Progam, kita bs pertemukan kepentingan dr pihak2 yg berbeda,</p>
<p>Dan kalo sudah bicara DATA BASE Database itu barang yg jauh lebih mahal diperebutkan drpd program ato produk itu sendiri. Sebab dr database, kt bisa bikin berbagai program &amp; produk lainnya</p>
<p>Selamat jd Programmer Komik!</p>
<p><strong>Oyas </strong></p>
<hr />dlm dunia komik, setidaknya bisa dilakukan 2 macam riset: riset pasar yg bertujuan utk mengetahui apa sih yg diinginkan pasar, dan riset pembuatan komik.</p>
<p>Riset pasar harus dilandasi dgn adanya tujuan. Ini bisa macam2. Bisa pengen tahu segmen masyarakat yg doyan komik, berapa pengeluaran rata2 per bulan utk belanja komik, komik macam apa yg digemari masyarakat, apa tuntutan masyarakat utk komik, dll dll dll. Kalo sudah ditetapkan tujuannya, barulah berangkat untuk pengumpulan data.</p>
<p>Data bisa macam2: interview, kuesioner, polling, dll dll dll. Tentu saja itu cuma media, krn yg paling penting adalah isi/ content dari msg2 media itu: daftar pertanyaan, dll.</p>
<p>Kalo semua sudah dapat, baru data diolah dgn metoda kuantitatif atau kualitatif. Biasanya kalo sudah ada data, bisa dikuantifikasikan. Pada umumnya menggunakan metoda statistik, shg hasilnya bisa dipertanggungjawabkan. Jika maunya kualitatif, ngga usah repot2 pake metode statistik dan kuantitatif lainnya. Kumpulin aja berbagai materi diskusi, ceramah, seminar, artikel, tulisan2 ilmiah, tulisan2 bisnis, dll. Kemudian ambil benang merahnya. Tapi ini berisiko subyektif sekali dan tergantung persepsi si peneliti.</p>
<p>Riset yang kedua adalah riset dalam berkarya komik sendiri. Biasanya para komikus mencari berbagai referensi spt artikel, koran, majalah, video, tulisan ilmiah, benda/ peristiwa bersejarah, dll sbg materi dasar komiknya. Biasanya komikus melakukan ini agar karyanya menjadi serelistis mungkin. Contoh terbaik dibidang ini adalah Herge, komikus Belgia pencipta Tintin. Lihat aja hasilnya, serta baca deh buku Tintin: The Complete Companion karangan Michael Farr. Itu isinya lengkap.</p>
<p>uraian diatas itu dibuat secara ringkas dan tentu saja banyak rincian teknis yg susah kalo mau diceritakan 1 per 1.</p>
<p>semoga bermanfaat</p>
<p><strong>suryo </strong></p>
<hr />Assalam,</p>
<p>Baru baca mail2 lama&#8230;<br />
Tergelitik dengan komentar mas Dodo&#8230;</p>
<p>Emang sich, riset pasar itu sebaiknya dilakukan oleh penerbit &amp; kita bukan membaca pasar tapi membentuk pasar&#8230;</p>
<p>Tapi&#8230;. masalahnya, yg membentuk pasar bukan kita krn kita gak punya &#8216;kekuatan&#8217; untuk itu lagipula sebelum menentukan atau membentuk pasar, kita harus menguasai pasar!<br />
Sebelum menguasai pasar, kita harus membaca pasar&#8230;<br />
Untuk membaca pasar&#8230; kita harus melakukan riset pasar&#8230;</p>
<p>So&#8230; kalo kita ngomong sejarah.. mau sejarah yg mana?<br />
komik kita? pan dah mandek dari kapan2, mas&#8230;<br />
 <img src='http://indiecomic.endonesa.net/myincludes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kita ;nggak harus&#8217; melakukan riset pasar, tapi kalo mau tapi kalo mau tau &#8216;keinginan pasar&#8217; yach mau nggak mau harus tau dan nongkrongin yang udah pernah ngelakuin riset psar&#8230; gitu loh!<br />
 <img src='http://indiecomic.endonesa.net/myincludes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Wassalam,<br />
<strong>Alva</strong></p>
<hr />Okeh,<br />
sekarang udah banyak masukan dari rekan2 lewat pengalaman masing2. kalopun kita komikus nggak smpet mikirin soal riset ini paling tdk skrg kt udah tau &#8216;peta&#8217; nya, mau ngapain, mau ke mana dan mau ke siapanya?</p>
<p><strong>BELAJAR RISET LEWAT GAME </strong></p>
<p>kalo emang mau serius beneran akhirnya riset emang jadi kebutuhan jadi inget kalo main game-game strategi / RTS ala Age of Empire, The Nation dan sejenis tiap klan ato peradaban baru bisa maju dan NGGAK jalan di tempat lagi &#8230;setelah RISET menemukan cara bercocoktanam, menemukan alat, senjata dst</p>
<p><strong>BAYIPUN SUDAH MELAKUKAN RISET </strong></p>
<p>sayangnya kata RISET, baik itu pasar, sejarah, dll bahkan jujur bagi saya sendiri masih jadi kata yg &#8217;susah&#8217;</p>
<p>tidak spt kata &#8217;sepakbola&#8217; ato &#8216;musik&#8217; walaupun di tingkat tertentu SAMA SULIT-nya tapi bisa diMULAI dari yg paling MUDAH &amp; FUN dan bisa jadi KEBIASAAN sehari-hari</p>
<p>padahal di usia pertama kita kita semua meriset segala hal sampe bisa kaya skrg</p>
<p>kbayang ga sih waktu dulu kita bayi kita dulu dr cuma ngamatin GERAK BIBIR dan POLA SUARA aja akhirnya bisa nguasain satu bahasa dlm waktu 2 tahun saja</p>
<p>prestasi RISET yg luar biasa!</p>
<p>so once again,<br />
selalu ada kali pertama utk sesuatu mulai aja dulu&#8230;spt org melahirkan</p>
<p>kalo uda melahirkan mah nggak akan bisa dimasukin lagi pasti bisa sendiri ke sananya</p>
<p>so keep movin&#8217;</p>
<p>&#8230;your number has become (butterfly &amp; hurricane, Muse)</p>
<p><strong>Oyas </strong></p>
<hr />CHEER UP<br />
Sbtulnya skrg kondisi komik indonesia sdh tdk segelap bbrp tahun lalu<br />
&#8230;penerbit sudah mulai terbuka bahkan mengundang &#8230;tdk lg kt yg harus susah2 meyakinkan</p>
<p>sbtlnya bolanya skrg ada di kita, tinggal bisa nggak kita menyambutnya &#8230;penerbit udah &#8216;nyatain&#8217; ke kita &#8230;mau ditolak apa diterima</p>
<p>masing2 penerbit sudah punya pasarnya masing2 dan sudah dlm tahap tdk skdar coba-coba tp produk komik itu sendiri sdh bisa survive &amp; running trus</p>
<p>tiap bulan ada aja tuh produk yg dirilis itu sdh sbuah indikator yg bagus</p>
<p>&#8230;<br />
masalahnya skrg, mungkin kita maunya bikin komik utk diri kita sendiri jadi susah, ga ada penerbit yg kerasa cocok</p>
<p>ini kaya nyari jodoh aja kalo smua standarnya mau kita yg tetepin boleh aja&#8230;tp kita musti yakin bhw kita sudah cukup ganteng &amp; mapan</p>
<p>mgkn ekspektasi kt thd jodoh kt terlalu tinggi ato mengharap jodoh kt bisa cepat sempurna taun depan bs jd ratu kecantikan&#8230;<br />
taun depan, komik indonesia harus meledak</p>
<p>tp kalo kt bisa saling-saling dg penerbit spt juga jodo kita&#8230;cepat ato lambat</p>
<p>bakal ber-anak juga dan kalo sudah ber-anak</p>
<p>siapa yg bisa mengendalikan populasinya&#8230;</p>
<p>maaf, kalo ini perspektif cowo pisan</p>
<p>tp saya menyaksikan sendiri rekan spt masagung ex wekker bisa survive hidup dr komik dan sudah memproduksi puluhan judul komik yg diterbitkan oleh penerbit, dan tiap tahun volumenya nambah terus</p>
<p>bersambung</p>
<p>commercial break :<br />
<strong>&#8216;idealis tidak sama dengan egois&#8217;</strong></p>
<p><strong>Oyas </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indiecomic.endonesa.net/komunitas-community/mendiskusikan-tentang-riset-komik.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
