IndieComic
Masyarakat Komik Indonesia
Mendiskusikan tentang “Riset Komik”
Categories: Komunitas

Seminggu lebih ini, saya lihat di beberapa milis komik, memeprbincangkan “Riset Komik” .
Nah, gimana kalau difokuskan lagi…

Gimana sih cara meriset komik yang baik? Standarnya? Dari Riset Komik , berpa persenkan, komik yang berkualitas akan muncul? Dengan riset, bakal beragamkah komik yang bakal muncul?

Atau semuanya bakal mengejar pembaca terbanyak… Yang katanya didominasi wanita…
Atau ada hal lainnya? Dan hasil riset komik ini bakal lebih berguna buat komikus? Penerbit? Atau pembaca? Perbedaan riset komiknya…dipengaruhi apa saja…

Penting Riset atau penting mempertahankan sebuah karakter komik?
Kalau saya sendiri sejauh ini ngomik untuk dibaca semua orang dengan berusaha menyebarkannya dikit demi sedikit, tapi memuaskan dari segi proses dan hasilnya bagi diri saya pribadi…

Apakah hanya riset yang bisa membuat komikus berdiri tegak sebgai komikus?
Jadi seberapa pentingkah riset? Terimakasih

ahmadzeni


kira2 2 pekan lalu ada presentasi dari Nielsen Media Research di MQ Corp mengenai riset pasar, di sana diterangkan mengenai riset media baik media cetak (koran, tabloid, majalah) radio maupun TV serta iklan secara umum, riset yg mereka lakukan sbb :

- mrk pilih 9 kota besar & greaternya jkt, greater jkt (botabek), bdg, smg, jgj, greater jgj (gerbangkartasila), sby, greater sby, denpasar, makassar, palembang & medan (apalin aja kota audisi AFI)

- total responden 13.000 saja jumlah ini sdh dg pertimbangan tdk terlalu sedikit utk bs dianalisis & tdk terlalu banyak, sbb makin banyak belum tentu makin bagus, krn hasilnya stl di atas jumlah tsb cenderung sama / sudah terwakili jadi kira2 1000 org per kota

-pemilihan responden dilakukan dg membagi wilayah kota/jumlah populasi dan ber jenjang mulai tk kodya sd kelurahan jd bisa aja daerah yg padat dipilih lbh banyak respondennya yg dipilih adalah perumahan…penghuni yg ada di rumah jd tdk termasuk outdoor, mal , kantor dll. data yg dikumpulkan bisa customize sesuai kebutuhan perusahaan atau standar

yg standar biasanya
-Male/Female
-SES : A, B1, B2, C1, C2, D
yg A itu standarnya 1,65 jt/bl di luar pengeluaran rutin
-Usia : klusternya mulai 5-9, 10 - 14, 15 - 19 dst
-Lifestyle :
-pengeluaran & skala prioritasnya utk apa saja
-meliputi merk produk-produk apa yg biasa dipakai sehari-hari
-kebiasaan, apa yg dilakukan jam 06-08, 08-10 dst weekdays, weekend

semua itu utk memetakan NEEDS / Kebutuhan sifatnya kuantitatif

Jadi utk komik bisa dihubungkan dg

-Seberapa besar prioritas org beli komik dibanding produk lainnya misal majalah atau buku Jadi komik bisa jadi lebih tepat bila masuk majalah atau koran dibanding buku misalnya dilihat dr harga, frekuensi, coverage dll

-Dari produk & habit, bisa dilihat knowledge & idiom-idiom yg dikenal sbb tiap produk yg dipakai, punya dunia-nya sendiri misal : nescafe itu diminum sama org yg suka musik ato suka sport ato suka baca sih?

utk yg customize
ini sdh menyangkut aspek kualitatif, WANTS bukan lagi NEEDS dan aspek WHY?nya jadi tdk bisa ditunjukkan dg angka

misal :

- Mengapa pilih A?
Apa yg disukai darinya?
Bagaimana kesan A?
apa mewakili image cerdas?
jantan?
imut? ato apa? jangan-jangan kampungan
Apa reaksi orang dg keputusan kamu milih A?
sampai ke sikap thd suatu isu, trend dll
- Mengapa tidak pilih B?
Apa yg tdk disukai darinya?
dst

Nah, kalo itu sudah terpetakan kita tinggal adjust komik kita dg NEEDS & WANTSnya. Jadi ‘message’ di komik bisa tepat sasaran

misal
komik utk anak usia 10-14 itu genrenya ini, visualisasinya begini, cara komunikasinya gini, idiom-idiom yg dipakai ini & itu harganya segini, format & bahannya ini, sebarannya di sini, ngiklannya di mana, bikin eventnya apa, produk turunanya ini dst

How to start?

Mulai dr Focus Discussion Group kalo susah mulai dr yg gede, kumpulin 20 - 100 org bisa dikumpulin lewat milis, forum reguler dg format nonton bareng, klab workshop dll pilih sampelnya disebar, misal dr beberapa sekolah se Jkt.

Paling mudah mulai dr komunitas yg sudah ada misal komunitas komik, anime, seni dll

Ini relatif efisien kalo blum bisa riset u ribuan org

Jangan lupa benefit apa yg bisa didapat dr mereka ada sedikit ‘tanda terima kasih’ atau ‘reward’ bentuknya bisa apa-aja, bisa hadiah, fasilitas, akses sd info update dll

shg mrk bisa all-out

Metode terakhir ini sdg kami lakukan di Bdg dg melibatkan anak2 dr bbrp sekolah di Bdg & sekitarnya

ternyata hasilnya mengejutkan apa yg semula jd asumsi awal kami ketika dihadapkan dg pasar rilnya banyak yg terbantah, terkoreksi dst jd misinya memperkecil gap antara asumsi kita dg asumsi pasar

jd tanpa riset tsb berarti sebelumnya kami hanya ngarang tebak-tebakan, sok PD ieu karya urang alus sorangan nu batur goreng, (ini karya saya paling bagus yg lain jelek) sok kenal & sok bisa membaca pikiran orang lain, sok idola, apa yg kita suka org lain juga suka

buntutnya
CAPE GAWE TAPI TEU KA PAKE!

“trio berlima”


Oke, thanks Oyas…

Memang teorinya seperti itu ya…

Tapi pelaksanaannya gak segampang itu.
Dan kalau berdasar teori rasanya kurang efektif.

Kalau riset yang terefektif dari segi waktu, budget…dan faktor lainnya?

Ini kan buat komik…seperti halnya membuat film…

Yahh membuat sebuah cerita.

Dan kayaknya kerjaan membuat cerita gak ada yang mubadzir.

Dulu saya pernah mau bikin angket ke sebuah perumahan kelas menengah ke atas di Bandung.

Kayaknya buat nyebar yang namanya angket… waktu dan tenaga serta budget yang dikeluarkan lumayan juga.

Saya samapi merasakan birokrasi perizinannya ke departemen sosopol dan Departemen kependudukan.
Pastinya capenya setengah mati…
Dijabani saja, soalnya buat tugas akhir…

Yang akhirnya ketika izinnya diperoleh, ternyata kesimpulannya enggak perlu survey atau sebar angket yang sedemikian rupa seperti teori…

Jadi riset yang paling efektif sebaiknya seperti apa?
Khususnya Riset efektif buat komik.

trims ahmadzeni


OK, kalo kita pake jalur resmi dg gunain lembaga riset profesional, emang budgetnya gede

dr lembaga riset yg pernah kami kontak angka rata2nya 35 jt-an, minimal 25 juta

proses di atas adalah proses JUAL-BELI itu memang cara yg paling lazim tapi bukan satu-satunya cara

spt kita lagi ngidam bala-bala kalo mau terima jadi, ya beli jadi tapi bisa juga kan seorang bawa tepung, yg lain bawa toge, ngkol, ndog dst akhirnya bukan malah beli bala-bala malah jualan bala-bala hasilnya dibagi rame-rame

utk riset sama juga
kalo smua kerjaan riset mo dikerjain sendirian selamat pingsan…duit abis, tenaga abis, pikiran abis nggak worthed

trus mindsetnya, jgn dipatok 40 jt ga mungkin bisa tapi gimana bisa mulai dr 500 perak bisa jalan dan kalo bisa malah menghasilkan yg 40 juta tadi

SNOWBALLING & BUTTERFLY EFFECT
kita bisa pake sistem ’snowball’ atau ‘butterfly effect’, dr yg kecil-kecil tapi terus nyambung sd jd gde

percayalah dg ‘modal dengkul’
percuma ngangkut ‘duit’ berjuta-juta kalo dengkul blum kuat bakal gempor, kseleo, duit yg diangkut juga tumpah bececeran…percuma

STUDI KASUS
Pada awalnya kami sempat ‘kaget sambil pura-pura tetap senyum tampak tenang’ ketika denger angka tadi

akhirnya, kami bikin program riset bentuknya berupa paket produk dan kegiatan

INTINYA
Bagaimana caranya agar riset ini dapat membiayai dirinya sendiri?

dirancanglah satu produk dg kuantitas yah cukuplah, jauh dr angka mass product

kemudian produk itu diluncurkan dalam bentuk kegiatan

lho, bikin kegiatan kan mahal!
Nggak, kalo kita bisa nebeng!

Step 1. PROSPEKTING

Lalu kita mengundang sekolah-sekolah

Kpd penyelenggara event kita jaminkan bahwa kita bisa datangkan banyak pengunjung dr sekolah-sekolah yg sebetulnya bakal jadi subjek riset kita dg begitu si penyelenggara event terangkat juga

Kpd sekolah juga kami tawarkan follow up bhw kegiatan ini akan menjadi awal dr kegiatan lanjutan yg sudah diprogram selama setahun

kalo ikutan sekarang, bakal terekspos terus selama setahun…ingat ini credit point bagi guru

point lain adalah piala & sertifikat piala itu tdk mahal-mahal amat, yg di bawah 50.000 an banyak tapi bangganya itu yg ga kebeli sama sekolah, siswa & orangtua

Sekali dapat piala, PD peserta akan naik & yakin akan bisa meraih piala berikutnya Ini POTENSI!

dari situ kita dapat database peserta

Step 2. FOLLOW UP

Database yg ada lalu kami follow up tiap 1-2 minggu sekali, kami datangi sekolah yg terlibat scr bergantian sambil refresh memory & kasi laporan & bicara ttg kegiatan lanjutan

Setelah dpt tanggalnya, kami datang dg 100 siswa per kunjungan database pun bertambah

pada tiap kunjungan kami sebar ‘kuisioner’ dlm bentuk bukan kuisioner, tapi teka-teki berhadiah termasuk wawancara dlm format ‘liputan’

dari sana kami dapat feedback yg bisa diolah sbg data riset

hasil kegiatan didokumentasikan ini penting utk nunjukin POWER kita

Step 3. SHOWING FORCE

Nah, dalam 3 bulan hitung saja database yg bisa kita punya. Catatan itu bisa ja di kekuatan utk tawar menawar dg sponsor. Apalagi dg dokumentasi kegiatan

Step 4. BARGAINING

Sudah, modal tadi sdh cukup utk ‘jualan’ ke sponsor ato menarik minat sekolah lain utk terlibat dlm kegiatan tsb

Step 5. MAINTAINING

Jgn lupa refresh terus memory pihak2 yg terlibat, shg isu yg tadinya ga penting krn direfresh & diupdate terus jd menempati ‘cache memory’ di RAM otak

sampai saat ini produk itu sendiri kita buat dg perjanjian ke produsen dg bayar 2 bl di belakang dg kontrak kontinuitas produksi (ini yg bisa jadi tawaran)

jadi utk memulainya relatif minim modal tapi padat NETWORKING! Intinya mempertemukan kepentingan-kepentingan dan sinergi

U kasus komik, masa sih ga ada penerbit yg ‘cling’ denger kaya ginian.
Apalagi penerbit besar.

JAdi sambil bikin produk, sambil riset, untung bareng2 kan enak win-win-win

SIMPULAN

Kalo mo bikin komik sebaiknya posisikan komik itu dalam bentuk PROGRAM bukan cuma PRODUK

PRODUK hanya salah satu elemen PROGRAM

PROGRAM setahun jauh lebih menarik drpd SINGLE PRODUCT

Dengan Progam, kita bs pertemukan kepentingan dr pihak2 yg berbeda,

Dan kalo sudah bicara DATA BASE Database itu barang yg jauh lebih mahal diperebutkan drpd program ato produk itu sendiri. Sebab dr database, kt bisa bikin berbagai program & produk lainnya

Selamat jd Programmer Komik!

Oyas


dlm dunia komik, setidaknya bisa dilakukan 2 macam riset: riset pasar yg bertujuan utk mengetahui apa sih yg diinginkan pasar, dan riset pembuatan komik.

Riset pasar harus dilandasi dgn adanya tujuan. Ini bisa macam2. Bisa pengen tahu segmen masyarakat yg doyan komik, berapa pengeluaran rata2 per bulan utk belanja komik, komik macam apa yg digemari masyarakat, apa tuntutan masyarakat utk komik, dll dll dll. Kalo sudah ditetapkan tujuannya, barulah berangkat untuk pengumpulan data.

Data bisa macam2: interview, kuesioner, polling, dll dll dll. Tentu saja itu cuma media, krn yg paling penting adalah isi/ content dari msg2 media itu: daftar pertanyaan, dll.

Kalo semua sudah dapat, baru data diolah dgn metoda kuantitatif atau kualitatif. Biasanya kalo sudah ada data, bisa dikuantifikasikan. Pada umumnya menggunakan metoda statistik, shg hasilnya bisa dipertanggungjawabkan. Jika maunya kualitatif, ngga usah repot2 pake metode statistik dan kuantitatif lainnya. Kumpulin aja berbagai materi diskusi, ceramah, seminar, artikel, tulisan2 ilmiah, tulisan2 bisnis, dll. Kemudian ambil benang merahnya. Tapi ini berisiko subyektif sekali dan tergantung persepsi si peneliti.

Riset yang kedua adalah riset dalam berkarya komik sendiri. Biasanya para komikus mencari berbagai referensi spt artikel, koran, majalah, video, tulisan ilmiah, benda/ peristiwa bersejarah, dll sbg materi dasar komiknya. Biasanya komikus melakukan ini agar karyanya menjadi serelistis mungkin. Contoh terbaik dibidang ini adalah Herge, komikus Belgia pencipta Tintin. Lihat aja hasilnya, serta baca deh buku Tintin: The Complete Companion karangan Michael Farr. Itu isinya lengkap.

uraian diatas itu dibuat secara ringkas dan tentu saja banyak rincian teknis yg susah kalo mau diceritakan 1 per 1.

semoga bermanfaat

suryo


Assalam,

Baru baca mail2 lama…
Tergelitik dengan komentar mas Dodo…

Emang sich, riset pasar itu sebaiknya dilakukan oleh penerbit & kita bukan membaca pasar tapi membentuk pasar…

Tapi…. masalahnya, yg membentuk pasar bukan kita krn kita gak punya ‘kekuatan’ untuk itu lagipula sebelum menentukan atau membentuk pasar, kita harus menguasai pasar!
Sebelum menguasai pasar, kita harus membaca pasar…
Untuk membaca pasar… kita harus melakukan riset pasar…

So… kalo kita ngomong sejarah.. mau sejarah yg mana?
komik kita? pan dah mandek dari kapan2, mas…
:)

Kita ;nggak harus’ melakukan riset pasar, tapi kalo mau tapi kalo mau tau ‘keinginan pasar’ yach mau nggak mau harus tau dan nongkrongin yang udah pernah ngelakuin riset psar… gitu loh!
:D

Wassalam,
Alva


Okeh,
sekarang udah banyak masukan dari rekan2 lewat pengalaman masing2. kalopun kita komikus nggak smpet mikirin soal riset ini paling tdk skrg kt udah tau ‘peta’ nya, mau ngapain, mau ke mana dan mau ke siapanya?

BELAJAR RISET LEWAT GAME

kalo emang mau serius beneran akhirnya riset emang jadi kebutuhan jadi inget kalo main game-game strategi / RTS ala Age of Empire, The Nation dan sejenis tiap klan ato peradaban baru bisa maju dan NGGAK jalan di tempat lagi …setelah RISET menemukan cara bercocoktanam, menemukan alat, senjata dst

BAYIPUN SUDAH MELAKUKAN RISET

sayangnya kata RISET, baik itu pasar, sejarah, dll bahkan jujur bagi saya sendiri masih jadi kata yg ’susah’

tidak spt kata ’sepakbola’ ato ‘musik’ walaupun di tingkat tertentu SAMA SULIT-nya tapi bisa diMULAI dari yg paling MUDAH & FUN dan bisa jadi KEBIASAAN sehari-hari

padahal di usia pertama kita kita semua meriset segala hal sampe bisa kaya skrg

kbayang ga sih waktu dulu kita bayi kita dulu dr cuma ngamatin GERAK BIBIR dan POLA SUARA aja akhirnya bisa nguasain satu bahasa dlm waktu 2 tahun saja

prestasi RISET yg luar biasa!

so once again,
selalu ada kali pertama utk sesuatu mulai aja dulu…spt org melahirkan

kalo uda melahirkan mah nggak akan bisa dimasukin lagi pasti bisa sendiri ke sananya

so keep movin’

…your number has become (butterfly & hurricane, Muse)

Oyas


CHEER UP
Sbtulnya skrg kondisi komik indonesia sdh tdk segelap bbrp tahun lalu
…penerbit sudah mulai terbuka bahkan mengundang …tdk lg kt yg harus susah2 meyakinkan

sbtlnya bolanya skrg ada di kita, tinggal bisa nggak kita menyambutnya …penerbit udah ‘nyatain’ ke kita …mau ditolak apa diterima

masing2 penerbit sudah punya pasarnya masing2 dan sudah dlm tahap tdk skdar coba-coba tp produk komik itu sendiri sdh bisa survive & running trus

tiap bulan ada aja tuh produk yg dirilis itu sdh sbuah indikator yg bagus


masalahnya skrg, mungkin kita maunya bikin komik utk diri kita sendiri jadi susah, ga ada penerbit yg kerasa cocok

ini kaya nyari jodoh aja kalo smua standarnya mau kita yg tetepin boleh aja…tp kita musti yakin bhw kita sudah cukup ganteng & mapan

mgkn ekspektasi kt thd jodoh kt terlalu tinggi ato mengharap jodoh kt bisa cepat sempurna taun depan bs jd ratu kecantikan…
taun depan, komik indonesia harus meledak

tp kalo kt bisa saling-saling dg penerbit spt juga jodo kita…cepat ato lambat

bakal ber-anak juga dan kalo sudah ber-anak

siapa yg bisa mengendalikan populasinya…

maaf, kalo ini perspektif cowo pisan

tp saya menyaksikan sendiri rekan spt masagung ex wekker bisa survive hidup dr komik dan sudah memproduksi puluhan judul komik yg diterbitkan oleh penerbit, dan tiap tahun volumenya nambah terus

bersambung

commercial break :
‘idealis tidak sama dengan egois’

Oyas

Categories: Komunitas - Tags: ,